Aksi Militer Irak di Kirkuk Dongkrak Harga Minyak

Harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga dunia naik 65 sem atau 1,1 persen menjadi US$ 57,82 per barel.

oleh Arthur Gideon diperbarui 17 Okt 2017, 06:00 WIB
Harga minyak cenderung variatif didorong sentimen ketegangan Rusia-Ukraina dan serangan Amerika Serikat ke Irak.

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik satu persen pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), usai pasukan Irak memasuki kota kaya minyak Kirkuk. Langkah pasokan Irak tersebut untuk merebut wilayah dari pejuang Kurdi.

Mengutip Reuters, Selasa (17/10/2017), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga dunia naik 65 sem atau 1,1 persen menjadi US$ 57,82 per barel. Sementara harga minyak mentah AS berakhir naik 42 sen atau 0,8 persen ke angka US$ 51,87 per barel.

Aksi militer Irak ini langsung memotong pasokan minyak mentah dari produsen minyak kedua terbesar dalam organisasi negara-negara eksportir minyak (OPEC).

"Kami melihat ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah memberikan dukungan kepada harga minyak. Contoh ketegangan tersebut sepeeti serangan ke Kurdi oleh Irak dan ketidakpastian di sekitar Iran," jelas analis energi CHS Hedging LLC, Inver Grove Heights, Minnesota, Anthony Headrick.

Irak melancarkan operasi militer pada Minggu saat krisis antara pemerintah Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdi meningkat. Pemerintah daerah Kurdi memilih untuk merdeka dalam referendum yang dilakukan pada 25 September kemarin.

Pasukan Irak memang terus masuk ke wilayah yang dikuasai oleh pejuang Kurdi setelah Perdana Menteri Haidar al-Abadi memerintahkan pasukan Irak untuk menegakkan keamanan di kota yang dikuasai oleh Kurdi usai referendum.

Ketegangan tersebut membuat produksi minyak turun 350 ribu per barel karena adanya penutupan ladang minyak utama di Bai Hassan dan Avana dengan alasan keamanan.

"Kontrol pemerintah Irak terhadap ladang minyak dan kontrol Kurdi terhadap pipa penyaluran menciptakan tantangan besar bagi kelanjutan ekspor minyak," jelas perusahaan riset Eurasia.

Sebenarnya dalam ketegangan antara Irak dan pejuang Kurdi ini saling klaim terjadi. Irak mengklaim bahwa terjadi penurunan produksi minyak tetapi Kurdi menyatakan bahwa produksi dan distribusi minyak berjalan seperti apa adanya. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya