Tersandung Kasus Bayi Debora, Saham Mitra Keluarga Merosot

Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk ditransaksikan di kisaran 1.950-2.080 pada perdagangan awal pekan ini.

oleh Agustina Melani diperbarui 11 Sep 2017, 14:02 WIB
Ilustrasi pergerakan saham

Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) bergerak di zona merah pada awal pekan ini. Hal itu seiring adanya sentimen terkait kasus bayi Debora yang berkaitan dengan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.

Berdasarkan data RTI, Senin (11/9/2017) pada sesi pertama perdagangan saham, saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) turun 4,27 persen atau 90 poin ke level 2.020 per saham.

Pada pembukaan perdagangan saham awal pekan ini, saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk turun 30 poin dari posisi 2.110 pada pekan lalu menjadi 2.080 per saham.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 1.429 kali dengan nilai transaksi harian saham Rp 13,3 miliar. Saham MIKA sempat ditransaksikan di level harga terendah 1.950 dan tertinggi 2.080 per saham pada sesi pertama.

Penurunan saham MIKA terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 20,53 poin atau 0,35 persen ke posisi 5.876,70 pada pukul 13.42 WIB. Namun, pergerakan saham MIKA mulai terbatas penurunannya. Saham MIKA turun 2,37 persen ke posisi 2.060 pada pukul 13.54 WIB.

"Ada efek dari kejadian kemarin. Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat hari ini support di 1.880 dan resistance terdekat 2.200 untuk awal pekan ini," ujar William saat dihubungi Liputan6.com.

Seperti diketahui, bayi Debora Simanjorang meninggal dunia diduga karena terlambat mendapat penanganan medis dari RS Mitra Keluarga Kalideres. Keluarga Deborah menyayangkan sikap rumah sakit yang lebih mementingkan uang muka ketimbang segera melakukan tindakan medis terhadap bayinya.

Meninggalnya bayi Debora pun menimbulkan reaksi beragam dari beberapa lembaga terkait. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, apa pun alasannya tidak dibenarkan bagi rumah sakit untuk menolak menangani pasien yang sedang kritis.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, meninggalnya bayi Debora merupakan cerminan dari dugaan adanya miskomunikasi antara pasien dan pekerja medis rumah sakit. Pemberian informasi sejelasnya dari rumah sakit dan ketenangan keluarga pasien menjadi kunci utama agar pasien terselamatkan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya