Tanpa Latar TIK, Growpal Sukses Garap Pasar Ekspor Perikanan

Growpal saat ini sudah mencatatkan rerata ekspor kerapu 400 ton dan udang 50 ton per bulan dengan pasar utama semua negara di Asia Tenggara.

oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diperbarui 17 Apr 2017, 21:00 WIB
Ilustrasi Startup. Kredit: Freepik

Liputan6.com, Bandung - Growpal, sebuah startup di bidang financial technology (fintech), sukses meraih pasar ekspor komoditas kerapu dan udang meski tak memiliki latar belakang teknologi informasi komunikasi/TIK.

CEO Growpal Achmad Rizqi Akbar mengatakan, pihaknya sejak awal tahun ini sudah menerima dana dari investor sekitar Rp 3 miliar dengan rerata ekspor kerapu 400 ton dan udang 50 ton per bulan. Pasar ekspor primer mereka ada di semua negara kawasan Asia Tenggara dan sisanya dalam jumlah kecil di Hongkong dan Amerika Serikat.

"Latar belakang akademis saya sarjana perikanan dari Universitas Brawijaya, Malang, angkatan 2010. Saya baru masuk industri fintech awal 2017, tak punya latar fintech apalagi coding. Namun Indigo.id membuat saya melek industri digital," katanya beberapa waktu lalu kepada Tekno Liputan6.com.

Menurutnya, tanpa latar belakang TIK, dua tahun sebelumnya ia sudah berbisnis ikan dan udang secara konvensional. Namun ia berusaha meningkatkan skala bisnis di sektor digital walau awalnya tak tahu persis bagaimana cara memasukinya.

Growpal pun mencoba untuk mengikuti seleksi program batch II Indigo.id pada pertengahan tahun lalu dan dinyatakan lulus seleksi pada 8 November 2016 lalu. Terpilih sebagai peserta inkubator jenis product validation (pengguna menyukai aplikasi) Indigo.id, selain memperoleh inkubasi dan mentoring, Growpal juga sudah memperoleh pendanaan sebesar Rp120 juta.

Saat ini, perusahaan rintisan asal Surabaya tersebut sedang dalam tahap seleksi market validation atau siap menjadi mesin bisnis untuk kemudian memperoleh pendanaan hingga Rp 1 miliar lebih.

Growpal digawangi anak muda rerata usia 20 tahunan, seperti CEO-nya yang masih berusia 23 tahun dan anggota tim lainnya juga seumuran yakni Shahriansyah Candraditya (CMO), Paundra Noorbaskoro (CPO), dan Raka kurnia novriantama (CTO).

Jenis fintech yang mereka lakukan adalah menghubungkan netizen sebagai investor kepada peternak komoditas perikanan pasar ekspor yang saat ini baru berfokus pada kerapu dan udang. Dengan investasi awal kerapu sekitar Rp 20 juta dan udang Rp 200 juta, tingkat return of investment (RoI) diklaim paling tinggi dari fintech sejenisnya yakni antara 35-50 persen.

Rizqi, sapaannya, menambahkan, peternak ikan mereka saat ini berada di kawasan Pacitan dan Sumbawa (udang) serta Situbondo, Banyuwangi, dan Bali (kerapu).

"Inkubasi Indigo.id membuat saya kemudian menerapkan pola agen Growpal di pusat peternakan kami. Merekalah yang menjadi supervisor kami, mengawasi agar peternak menerapkan standar operasi yang ditetapkan agar memenuhi standar ekspor," sambungnya.

Sejauh ini, kata dia, pola fintech yang diterapkan relatif berhasil karena dana kelolaan terus bertambah. Sementara dari sisi produksi, pengiriman komoditas pun masih belum bisa memenuhi keinginan buyer dari luar negeri.

Dari ekspor kerapu 400 ton, permintaan pasar sebetulnya mencapai 3.000 ton, sedangkan ekspor udang 50 ton baru memenuhi seperempat kebutuhan. Ini belum mencakup potensi pasar ekspor ikan lainnya.

"Kami memenuhi dulu kebutuhan operasional peternak, kami talangi sebelum investor ke Growpal masuk. Dengan pola fintech, harapannya makin banyak investor yang mau tanam uangnya, sehingga total kebutuhan pasar bisa kami penuhi," sambungnya.

Rizqi dan kawan-kawan juga berusaha mendekatkan diri dengan investor antara lain dengan rencana memindahkan kantor utamanya dari Surabaya ke Jakarta dalam beberapa saat ke depan.

(Msu/Why)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya