Harga Minyak Bergerak Bervariasi Dibayangi Kenaikan Pasokan

Harga minyak telah rebound selama lebih dari 60 hari di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan produksi AS.

oleh Nurmayanti diperbarui 07 Mar 2017, 06:00 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah dunia bergerak bervariasi, dengan Brent mencatat kenaikan sementara WTI sedikit berkurang.

Volatilitas harga minyak ini, terpicu komentar Menteri Perminyakan Irak bahwa pemotongan mungkin bertahan dan memasuki babak kedua tahun ini.

Melansir laman Reuters, Selasa (7/3/2017), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 13 sen menjadi US$ 53,20 per barel. Sementara minyak mentah Brent ditutup naik 11 sen ke posisi US$ 56,01 per barel.

Harga minyak sempat menguat setelah Menteri Perminyakan Irak mengatakan OPEC kemungkinan perlu untuk memperpanjang pemotongan produksi memasuki paruh kedua 2017.

Rencananya, negara anggota OPEC akan berkumpul pada konferensi energi CERAweek tahunan di Houston pada pekan ini.

Harga minyak telah rebound selama lebih dari 60 hari di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan produksi AS dapat merusak kesepakatan anggota OPEC untuk memangkas produksi pada paruh pertama tahun ini.

"Kami masih mencari arah. Kita tidak bisa mendorongnya terlalu jauh dan terlalu cepat dan hanya mendapatkan lebih dari US$ 55," kata Direktur Pengembangan Bisnis Frost dan Sullivan Carl Larry.

Dia mencatat bahwa harga minyak AS telah beringsut ke atas tapi tidak mencapai angka maksimal.

Menteri Perminyakan Irak Jabbar Al-Luaibi mengatakan pemotongan kemungkinan akan perlu diperpanjang ke dalam paruh kedua 2017. Irak bahkan siap bergabung dalam upaya tersebut.

Irak sepakat untuk mengurangi produksi 210 ribu barel per hari tetapi produsen terbesar kedua OPEC ini awalnya berusaha untuk terbebas dari setiap langkah pemotongan, dengan alasan membutuhkan pemasukan untuk melawan pemberontakan ISIS.

Sementara harga minyak AS kembali berayun lebih rendah setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pertumbuhan potensial serpih minyak dan memudarnya permintaan produk olahan. Faktor yang menjadi pendorong upaya global untuk mengakhiri kekenyangan pasokan.

Produksi minyak AS dapat tumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari pada 2022 dengan harga sekitar US$ 60 per barel, menurut laporan IEA.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya