Korut: Kami Akan Menolak Hasil Autopsi Kim Jong-nam

Cukup lama diam, akhirnya pihak Korut angkat bicara terkait kematian kakak tiri pemimpin mereka, Kim Jong-nam.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 19 Feb 2017, 13:48 WIB

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Di sebuah kamar mayat di rumah sakit di Kuala Lumpur, Malaysia, jasad seorang pria yang dijaga ketat telah menjadi perhatian dunia sejak akhir pekan lalu. Kematiannya diduga tak lepas dari plot pembunuhan yang menyeret warga dari sejumlah negara, yakni Korea Utara (Korut), Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Tubuh terbujur kaku itu adalah milik Kim Jong-nam, kakak tiri dari pemimpin Korut, Kim Jong-un. Penyidik Malaysia hingga kini masih terus bekerja untuk mengungkap misteri di balik tewasnya pria berusia 45 tahun itu.

Kim Jong-nam yang berseberangan dengan Kim Jong-un dikabarkan diserang di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Senin 13 Februari lalu. Menurut otoritas Malaysia, seorang pria berbadan gemuk, usia pertengahan 40-an, mengaku kepada petugas medis bandara bahwa ia telah disemprot dengan zat kimia. Yang bersangkutan disebut menderita pusing, kejang, sebelum akhirnya meregang nyawa beberapa jam kemudian.

Seolah tidak lagi memerlukan bukti, sejumlah pengamat termasuk yang berasal dari Korea Selatan langsung menunjuk dalang tewasnya Kim Jong-nam adalah sang adik tiri. Ini tidak lepas dari catatan bahwa sejak naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 2011, Kim Jong-un dilaporkan telah mengeksekusi sejumlah pejabat tinggi.

Hingga saat ini, otoritas Malaysia telah menahan empat orang yang diduga terkait dengan kematian Kim Jong-nam. Satu di antaranya merupakan seorang pria asal Korut yang menurut New Straits Times bernama Ri Joing Chol (47).

Ikut diamankan adalah seorang WNI bernama Siti Aisyah serta kekasihnya, seorang pria asal Negeri Jiran. Ada pun satu orang lainnya adalah perempuan asal Vietnam bernama Doan Thi Huong.

Sejak kasus ini mencuat, para pejabat Korut belum buka suara. Namun otoritas Malaysia mengatakan ada permintaan dari pihak Korut agar jenazah Kim Jong-nam dikembalikan ke negara itu.

"Kami mendapat permintaan untuk menyerahkan jenazahnya dari Kedutaan Korea Utara," terang Kepala Departemen Investigasi Kriminal Kepolisian Wilayah Selangor, Asisten Komandan Senior Polisi Fadzil Ahmat seperti dikutip dari The Star pada Rabu lalu.

Barulah pada Jumat malam, Duta Besar Korut untuk Malaysia memecah kebisuan. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar jelang tengah malam di luar kamar mayat, Duta Besar Kang Chol mengatakan, Malaysia mungkin "mencoba menyembunyikan sesuatu" dan "berkolusi dengan kekuatan musuh". Demikian seperti dilansir Cbsnews.com yang mengutip Associated Press, Minggu, (19/2/2017).

"Kami tegas akan menolak hasil post mortem," ujar Kang seraya menambahkan bahwa prosedur itu dilakukan secara sepihak dan tidak menghadirkan pihak Korut.

Malaysia merupakan bagian dari segelintir negara yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Korut di mana keduanya memiliki kedutaan besar di ibu kota satu sama lain. Negeri Jiran juga telah menjadi tempat utama bagi pembicaraan setengah resmi antara Korut dengan Amerika Serikat (AS).

Hasil autopsi sendiri belum diumumkan, namun seorang pejabat Malaysia yang dekat dengan penyelidikan mengatakan hasilnya tidak meyakinkan dan akan dilakukan autopsi kedua pada Jumat malam. Namun informasi ini dibantah oleh pejabat polisi Abdul Samah Mat.

Otoritas Malaysia saat ini tengah mencari sampel DNA dari keluarga Kim Jong-nam. Pria itu diyakini memiliki dua putra, seorang putri, dan dua wanita yang tidak disebutkan hubungannya. Mereka disebut-sebut tinggal di Beijing dan Macau.

Kim Jong-nam praktis "tersingkir" dari suksesi Korut ketika ia dilaporkan tertangkap setelah mencoba masuk ke Jepang dengan paspor palsu pada tahun 2001. Saat itu ia ingin mengunjungi Disneyland.

Sementara itu, para analis menilai otoritas Malaysia akan sangat berhati-hati mengambil langkah demi langkah atas jasad Kim Jong-nam. Negeri Jiran tidak ingin terhanyut dalam pertentangan Korut atau pihak-pihak lain.

"Sebagai negara kecil, Malaysia tidak memihak," demikian komentar Geetha Govindasamy, seorang dosen senior studi Asia Timur di University of Malaya yang juga mempelajari hubungan Korut dengan Asia Tenggara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya