Taliban Minta Donald Trump Tarik Pasukan AS dari Afghanistan

Intervensi militer AS di Afghanistan tergolong yang terpanjang dan menelan biaya sangat besar. Taliban menganggapnya kesia-siaan belaka.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 26 Jan 2017, 19:40 WIB
Donald Trump turun menuju podiumnya untuk menyampaikan pidato pertamanya sebagai Presiden AS di Capitol Hill, Washington DC, AS, Jumat (20/1). Dikabarkan, Trump sendiri yang menulis dan menyusun pidato pelantikannya. (AFP Photo)

Liputan6.com, Kabul - Taliban menyerukan agar Presiden Donald Trump segera menarik pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan. Kelompok yang dibentuk pada tahun 1994 itu pun mengatakan, tidak ada capaian dalam perang selama 15 tahun, kecuali pertumpahan darah dan kehancuran.

Dalam sebuah surat terbuka yang dipublikasikan di situs resmi mereka dan ditujukan kepada Presiden Trump, Taliban mengatakan, AS telah kehilangan kredibilitas setelah menghabiskan triliunan dolar dalam kesia-siaan. Demikian seperti dilansir Al Jazeera, Kamis, (26/1/2017).

"Jadi, tanggung jawab untuk mengakhiri perang ini juga ada pada pundak Anda (Trump)," tulis Taliban.

Negeri Paman Sam menginvasi Afghanistan pada tahun 2001. Dan negara yang saat ini dipimpin oleh Presiden Ashraf Ghani itu merupakan negara terlama setelah Vietnam yang mengalami intervensi militer AS.

Namun dibanding Vietnam, biaya yang dihabiskan di Afghanistan jauh lebih besar. Setidaknya, lebih dari US$ 100 miliar "terbuang" untuk melancarkan intervensi militer di negeri asal Osama bin Laden tersebut.

Taliban membenarkan pemberontakan yang terus menerus mereka lakukan di Afghanistan. Mereka mengklaim, kelompoknya berjihad dan berjuang dengan sah mengikuti standar agama, intelektual, dan nasional.

Sejauh ini, Trump tergolong jarang bicara secara terbuka soal Afghanistan di mana terdapat 8.400 pasukan AS di sana. Keberadaan pasukan AS itu sebagai bagian dari misi pelatihan yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan NATO untuk mendukung pasukan lokal sebagaimana misi kontraterorisme AS.

Trump diketahui telah menunjuk pensiunan marinir, James Mattis sebagai menteri pertahanan dan Michael Flynn sebagai penasihat keamanan nasional. Keduanya, disebut-sebut memiliki pengalaman luas di Afghanistan.

Taliban juga memperingatkan agar Trump menolak laporan yang disediakan oleh para jenderal di era pemerintahan sebelumnya. Merebut menyebutnya tidak realistis.

"Mereka hanya akan menekankan pentingnya melanjutkan perang dan pendudukan di Afghanistan karena mereka bisa mendapatkan posisi dan hak istimewa di dalam perang," demikian sebut Taliban dalam surat terbukanya.

Dalam surat tersebut, Taliban juga mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Afghanistan ilegal, tidak efektif, dan tanpa tujuan.

"Rakyat Afghanistan yang telah dilanda perang sepanjang 38 tahun, tulis ingin perang ini berakhir," ujar Taliban.

"Apa pun alasan perang-perang yang pernah terjadi sebelumnya, pada prinsipnya, konflik yang tengah terjadi disebabkan oleh kehadiran pasukan asing di negara independen kami. Anda semua harus menyadari bahwa rakyat Afghanistan telah bangkit melawan pendudukan asing," tambah mereka.

Taliban dinilai telah membuat kemajuan dalam melawan pemerintahan yang didukung Barat sejak pasukan koalisi mengakhir misi tempur mereka pada tahun 2014 lalu. Militer Afghanistan dikabarkan hanya mampu menguasai dua per tiga wilayah negara itu.

Kelompok itu telah berulangkali mendesak AS dan sekutunya untuk angkat kaki dari Afghanistan dan mengesampingkan pembicaraan damai dengan pemerintah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya