Pelindo Energi Gandeng Perusahaan China Bangun Infrastruktur LNG

Direktur Pelindo Energi Logistik Gembong Primadjaja menuturkan pembangunan infrastruktur LNG sulit bila hanya andalkan APBN.

oleh Dewi Divianta diperbarui 23 Sep 2016, 21:14 WIB
MoU Pelindo Energi Logistik

Liputan6.com, Benoa - PT Pelindo Energi Logistik menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, China Communication Construction Company(CCCC Ltd). Kerja sama senilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 261 triliun (asumsi kurs Rp 13.093 per dolar Amerika Serikat) itu untuk membangun infrastruktur LNG.

Direktur PT Pelindo Energi Logistik, Gembong Primadjaja menuturkan, ‎CCCC Ltd saat ini tercatat sebagai perusahaan pengerukan ketiga terbesar di dunia dan telah mencatatkan pendapatan sebesar US$ 54,8 miliar pada tahun lalu.

Gembong menuturkan, ‎pembangunan infrastruktur LNG sulit jika hanya mengandalkan dana APBN yang terserap untuk kepentingan strategis lainnya.

"Kita mencari dana dari luar negeri dengan sistem partnership. Salah satunya dengan CCCC Ltd ini," kata Gembong di Benoa LNG Terminal, Jumat (23/9/2016).

Gembong melanjutkan, kerja sama ini juga merupakan tidak lanjut dari kesepakatan antara Presiden Joko Widodo ‎dengan Presiden Tiongkok. Di antara kesepakatan itu adalah mengembangkan investasi untuk manufaktur dan infrastruktur di Indonesia.

Dia menuturkan, kerja sama ini juga sejalan dengan amanat dari Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Benoa LNG Terminal pada Juni lalu. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu melihat pencapaian luar biasa dan harus segera didukung oleh PLN. Secepatnya, infrastruktur yang sama juga harus diimplementasikan di daerah lain.

"Kami optimistis dengan dukungan dari CCCC Ltd ini maka kerja sama ini akan dapat mendukung pemerintah secara optimal dalam pembangunan infrastruktur energi di Indonesia," ujar dia.

"Sebagai perusahaan konstruksi nomor satu di Tiongkok, salah satu proyek mereka yang sudah kita nikmati di Indonesia adalah Jembatan Suramadu," tutur Gembong.

Gembong optimistis PT Pelindo Energi Logistik yang telah menjadi pelopor untuk pembangunan mini LNG terminal pertama di Indonesia dapat menjadi pintu yang tepat untuk mengembangkan proyek infrastruktur energi lainnya di Indonesia.

‎Benoa LNG terminal sendiri memasok gas untuk pembangkit listrik Indonesia Power yang berjarak 3,5 kilometer dari Pelabuhan Benoa. Proyek tersebut menghabiskan dana sebesar Rp 1,2 triliun. Dana dari hasil kerja sama itu juga dialokasikan sebesar Rp 12 miliar untuk membangun infrastruktur yang sama di Surabaya. (Dewi Divianta/Ahm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya