Survei Waze, Bogor Kota Berkendara Terburuk Kedua Dunia

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto tidak menampik jika Kota Hujan masih macet.

oleh Achmad Sudarno diperbarui 17 Sep 2016, 02:28 WIB
Pemandangan lalu lintas di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, Jum'at (6/5). Libur panjang dimanfaatkan sejumlah warga untuk berlibur di kawasan Puncak Bogor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Bogor - Berdasarkan hasil survei Waze, sebuah perangkat lunak navigasi dan lalu lintas android menyebutkan bahwa Bogor berada di urutan kedua setelah Cebu, Filipina sebagai kota dengan pengalaman berkendara terburuk di dunia.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto tidak menampik jika Kota Hujan masih macet.

"Survei waze tetap harus kita perhatikan dan jangan disangkal, karena memang Bogor masih macet, bahkan di beberapa ruas jalan tambah macet," kata Bima, Jumat 16 September 2016.

Bahkan ia menyebut jika tahun ini kemacetan di Bogor lebih buruk dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu, kata dia, kemacetan di Bogor masih berada di bawah Bandung dan Denpasar.

"Ini penting untuk kerja lebih keras lagi terutama reformasi angkutan kota," ujar Bima.

Dalam survei tersebut indeks kepuasan pengendara di angka tertinggi yakni 10, Bogor mencatatkan indeks 2,1 dengan ranking 185 dari 185 kota di dunia. Indeks kemacetan 3,2, kualitas jalan 2,6 dan ekonomi sosial 1,1.

Sedangkan Kota Cebu, Filipina menempati ranking pertama dengan indeks kepuasan 1,1 atau terburuk, dalam hal kualitas jalan, lalu lintas dan keselamatan. Sementara di San Salvador di El Savador berada di peringkat ke-3.

Meski Bogor terbagi dalam dua wilayah administratif yakni Kota dan Kabupaten, Bima tak menampik predikat terburuk di maksud Waze adalah kota yang dipimpinnya.

Sebab, kata Bima, Waze benar-benar melakukan survei di Kota dan Kabupaten Bogor. Di antaranya Jalan Sholeh Iskandar, Tajur, Kebon Pedes, Martadinata, Dewi Sartika, Sawojajar, Pajajaran, Lawanggintung, Merdeka, MA Salmun, dan Mayor Oking.

"Waze melakukan survei di 12 titik lokasi di Kota Bogor. Untuk di kabupaten 1 lokasi yaitu si Ciawi-Gadog," kata dia.

Bima menjelaskan penyebab utama Bogor kerap mendapat predikat negatif terkait perkotaan maupun lalu lintasnya ini karena laju pertumbuhan kendaraan yang semakin tak terkendali. Sementara luasan jalan tidak pernah bertambah.

"Pertumbuhan kendaraan sebesar +13%, sementara pertumbuhan jalan 0,1% per tahun, jadi tidak sebanding," jelas Bima.

Selain itu, kurang disiplinnya pengguna jalan dan banyaknya Pedagang Kaki Lima (PKL) di bahu jalan serta karena parkir liar.

Menurut dia, hasil survei Waze akan dijadikan acuan untuk melakukan perubahan di beberapa sektor. Antara lain, pembangunan infrastruktur, melakukan pengawasan dan penertiban dan penataan parkir.

"Kami akan bangun fly over di Jalan RE Martadinata dan percepatan lanjutan pembangunan tol Bogor Ring Road (BRR) serta jalan Regional Ring Road," ungkap Bima.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya