Ditinggal Kabur Orangtua, Bocah Ini Gigih Merawat 5 Adiknya

Demi menghidupi adik-adiknya, Riski jadi buruh bangunan sampai jualan nasi goreng.

oleh Edhie Prayitno Ige diperbarui 19 Jun 2016, 13:50 WIB
Bocah Semarang perawat adik

Liputan6.com, Semarang - "Nana, tulung adikke digawekke susu disik. Mas lagi repot (Nana, tolong adik dibuatkan susu. Kakak sedang repot)," kata Rizki Aditya (17), sambil membersihkan bagian belakang rumahnya.

"Jarange entek mas. Durung nggodhok. Sing neng thermos yo entek (air panasnya habis mas. Belum sempat menjerang. Yang di thermos juga habis)," kata Nana Hariyana (12), sang adik.

Dialog akrab dan intim ini terekam dari sebuah rumah sederhana di Jalan Ngumpulsari 12 RT 04/04 Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Semarang, Sabtu 18 Juni 2016. Mendengar dialog itu, Dina Soraya (15), kakak Nana dan adik Riski berlari ke rumah tetangga. Hanya beberapa menit ia sudah pulang dengan air panas.

Dengan cekatan kakak beradik itu kemudian mengambil susu formula dan meraciknya. Dina memangku sang bayi. Tangis bayi pun berhenti.

Sepotong fragmen di atas bukan skenario film atau sinetron. Ini kisah nyata seorang remaja yang berjuang memeras keringat untuk menghidupi lima adiknya, paling kecil bayi enam bulan.

Kemana orang tuanya?

Enam bocah itu adalah anak-anak dari pasangan suami istri  Heiruddin dan Sayati. Kepada Liputan6.com, Riski sang anak sulung mengungkapkan kisah keluarganya.

Rizki dari Semarang gigih merawat adik-adiknya sendiri (Foto dari akun Facebook Riski)

Awalnya kepergian sang ayah untuk mencari nafkah sebelas bulan lalu, tak meninggalkan jejak atau kabar. Derita memuncak ketika sang ibu juga pergi tanpa pesan, meninggalkan enam anaknya.

"Bapak pergi ke Jakarta sudah 11 bulan nggak ada kabar sampai sekarang. Ibu juga pergi nggak memberitahu siapapun tujuannya kemana," kata Riski yang sempat bersekolah SMP namun tak tamat itu.

Suami istri yang pergi sendiri-sendiri itu meninggalkan enam anak. Riski Aditya (17) danadik-adiknya yakni Dina Soraya (15), Nana Hariyana (12), M. Rozaq Magrobi (9), Tiara Silvani Yasmina (7), dan si bungsu Putra Kencana yang masih berumur enam bulan.

Mengetahui orang tuanya sengaja meninggalkan mereka, Riski tidak tinggal diam. Ia terus berusaha mencari. "Sempat ada teman yang memberi kabar melihat ibu di Kendal, tapi saya cari ke sana tidak ketemu juga," kata Riski.

Menurut Riski, ibunya merupakan warga asli Ngumpulsari di kampung itu. Ayahnya berasal dari Pandeglang, Banten. Sebelum pergi merantau, Heiruddin menghidupi keluarganya dengan mencari batu di proyek galian C dekat rumahnya. Seiring kerusakan lingkungan, area galian C itu ditutup.

"Ayah pernah bilang, ia gelisah sebagai laki-laki harus memberi nafkah. Makanya ia pamit merantau," kata Riski.

Rizki dari Semarang gigih merawat adik-adiknya sendiri (Foto dari akun Facebook Riski)

Berbekal nomer ponsel yang dimiliki ayahnya dan juga keluarga ayahnya, Riski mencoba menghubungi keluarga asal kampung halaman ayahnya di Pandeglang, Banten melalui telepon. Namun, nomer tersebut ternyata sudah tidak bisa dihubungi.

"Kami bersyukur masih ada nenek yang membantu kami. Namun tanggung jawab adik-adik kan tetap di pundak saya," kata Riski.

Ingin menuntaskan tanggungjawabnya, Risky memilih bekerja menjadi buruh bangunan. Setiap hari ia sudah mulai bekerja dari jam delapan pagi.

"Pulang jam empat sore, setelah mandi dan istirahat sebentar bekerja lagi mulai jam delapan malam membantu orang berjualan nasi goreng," kata Riski.

Dengan mengurangi jam istirahatnya tanpa mengeluh, Riski bisa menghidupi lima adiknya. Ia hanya berpesan agar adik-adiknya rukun dan saling membantu jika ada yang repot.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya