Jokowi Ingin Krisis Air di Balikpapan Segera Tuntas

Presiden Joko Widodo meminta persoalan krisis air Balikpapan Kalimantan Timur tuntas pada tahun ini

oleh Abelda RN diperbarui 25 Mar 2016, 12:45 WIB
Presiden Jokowi memberikan keterangan kepada awak media usai meresmikan pengoperasian Waduk Nipah di Sampang, Madura, Jatim, Sabtu (19/3). Waduk ini sempat mangkrak selama 16 tahun karena sulitnya membebaskan lahan. (Setpres/Cahyo)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta persoalan krisis air Balikpapan Kalimantan Timur tuntas pada tahun ini. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini memerintahkan Kementerian Pekerjaan Umum membantu pembiayaan proyek Waduk Teritip sebagai sumber air baku Balikpapan.

“Kementerian PU akan bantu agar tampungan air Balikpapan segera selesai,” kata Jokowi ini usai membagikan Kartu Program Keluarga Harapan di Balikpapan, ditulis Jumat (25/3/2016).

Jokowi mengaku sudah menerima laporan soal krisis air dari Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi. Pemerintah Kota Balikpapan sedang mempercepat pembangunan Waduk Teritip untuk penampungan air baku bagi masyarakat.

 

“Waduk Teritip sudah 40 persen, kita putuskan agar segera selesai,” tegasnya.

Pemprov Kaltim dan Balikpapan membangun Waduk Teritip yang diperkirakan menelan dana Rp 248 miliar. Pembangunan waduk di atas lahan 110 hektare itu sudah dimulai sejak pertenganan tahun 2014 lalu.

Proyek pembangunan fisik bendung Waduk Teritip dilaksanakan PT Waskita Karya hingga 2017 mendatang. Pemkot Balikpapan harus menyiapkan total luas kawasan yang mencapai 285 hektare. Seluas 175 hektare diantaranya digunakan untuk kawasan genangan dan green walt (batas hijau).

Adanya Waduk Teritip diharapkan menyokong Waduk Manggar yang jadi penyedia air baku satu satunya bagi warga Balikpapan. Kota Balikpapan terancam kekeringan saat karena tidak ada hujan selama tiga bulan terakhir yang mengeringkan debit air Waduk Manggar Balikpapan.

“Pemantauan debit air Waduk Manggar hanya 5 meter saja,” kata Direktur Utama PDAM Balikpapan, Haidir Effendy.

Haidir mengatakan Waduk Manggar menjadi sumber air baku satu satunya bagi masyarakat Balikpapan. PDAM Balikpapan mengolah 900 liter air per detik Waduk Manggar yang diperkirakan mengering pada awal bulan Maret mendatang

“Asumsinya tidak ada hujan membuat air waduk mengering pada bulan Maret nanti,” paparnya.

Selama dua bulan terakhir ini hujan memang tidak turun di Balikpapan. Intensitas curah hujan yang terjadi di Balikpapan juga tidak mampu memenuhi Waduk Manggar yang berdaya tampung 16 juta meter kubik air.

Kondisi ini menyebabkan debit air Waduk Manggar terus menyusut memasuki level mengkhawatirkan saat ini. Debit air level kedalaman 5 meter dianggap posisi kritis yang mengancam kelangsungan distribusi air pada masyarakat.

Karenanya, PDAM Balikpapan sudah menggilir distribusi air bagi puluhan ribu pelanggan setempat.
PDAM Balikpapan juga melakukan evaluasi cuaca hingga turunnya hujan yang sangat cukup, sehingga dapat menambah volume level Waduk Manggar. Itu pun bukan menjadi jaminan distribusi air pelanggan yang berada di kawasan perbukitan atau jauh dari instalasi pipa PDAM Balikpapan.

“Alternatifnya adalah menyiapkan mobil tangki air untuk masyarakat,” ujarnya.

Ancaman krisis air bersih sudah berulang kali mengancam Balikpapan sehubungan ketiadaan sumber air baku bagi masyarakatnya. Waduk Manggar menjadi tampungan air hujan bagi sumber air baku PDAM Balikpapan.

Haidir mengatakan permasalahan krisis air bisa teratasi saat ada realisasi pipanisasi air baku dari Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara ke Balikpapan. Sistim pipanisasi air baku ini menjadi proyek jangka panjang penanganan krisis air Balikpapan serta membutuhkan anggaran yang besar.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya