Rangkul Anak Putus Sekolah, Brigadir Pieter Diarak PBB ke Jepang

Generasi penerus bangsa itu harus diselamatkan karena mereka bisa terpengaruh melakukan kejahatan jika terus diabaikan.

oleh Eka Hakim diperbarui 16 Jan 2016, 18:31 WIB
Generasi penerus bangsa itu harus diselamatkan karena mereka bisa terpengaruh melakukan kejahatan jika terus diabaikan. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Liputan6.com, Jakarta - Brigadir Pieter A Paembonan mendapatkan penghargaan dari UNICEF atas idenya membangun program "gerakan kembali bersekolah". Anggota Babinkamtibmas Polsek Kaluku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) itu menghimpun 756 anak asuh hanya dalam 2 tahun.

Pieter mengatakan, hatinya tergerak terjun ke pendidikan setelah menyadari tingginya angka putus sekolah di kabupaten terluar Sulawesi Selatan dan Barat itu. Menurut dia, generasi penerus bangsa itu harus diselamatkan karena mereka bisa jadi terpengaruh melakukan kejahatan jika terus diabaikan.

"Kasihan jika mereka, anak-anak kita harus putus sekolah. Mereka adalah generasi bangsa yang harus kita jaga dan selamatkan. Jika mereka tak bersekolah tentunya mudah terpengaruh dengan kelompok kelompok kejahatan. Inilah upaya dini yang kami lakukan sebagai Babinkamtibmas," ucap Pieter kepada Liputan6.com di Makassar, Sabtu (16/1/2016).

Menurut dia, ada beberapa alasan yang mendasari anak-anak putus sekolah. Pertama, anak itu sendiri tidak mau bersekolah. Kedua, orangtua tak mampu. Sedangkan terakhir, anak dan orangtua tak mau karena anak sudah mampu bekerja membantu orangtuanya.

 

"Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat awalnya pertama pribadi anaknya yang memang sudah tak mau bersekolah. Kedua, orangtua yang tak mampu. Dan ketiga, yang paling berat, anak dan orangtua yang tak mau itu dikarenakan anak sudah mampu bekerja membantu orangtua," kata Pieter.

Pieter menuturkan, ia mengasuh 25 anak pada tahun pertama menjalankan program kemanusiaan tersebut pada 2014. Jumlah itu bertambah puluhan kali lipat pada 2015. Pada tahun ini, ia menargetkan 1.000 anak bisa bersekolah kembali. Sumber dana pendidikan berasal dari kantong pribadinya dan teman-temannya serta dana bantuan operasional sekolah (BOS).

"Program ini pun kami terapkan dengan memanfaatkan dana BOS serta dana pribadi anggota-anggota Babinkamtibmas yang diberikan secara sukarela, dengan memotong gajinya tiap bulan sebesar Rp 50 ribu. Dana itu yang dikumpulkan untuk membantu anak asuh kami untuk melanjutkan sekolah yang telah putus jalan sebelumnya," Pieter menjelaskan.

Setelah 2 tahun menjalankan program kemanusiaan itu, kiprah Pieter dilirik lembaga dunia UNICEF. Lembaga bidang pendidikan anak-anak itu mengajaknya untuk studi banding ke Jepang. Ia berharap ilmu yang didapatnya nanti bisa semakin memantapkan program gerakan kembali bersekolah di Mamuju.

"Kami juga tak mengira, UNICEF melirik program yang kami jalankan untuk menyelamatkan anak putus sekolah di Mamuju, dan saya pribadi dibawa UNICEF ke Jepang untuk studi banding sekaligus menimba ilmu. Selanjutnya, apa yang didapatkan dari hasil studi banding lalu dikembangkan kembali di Mamuju, khususnya dalam memantapkan program gerakan kembali bersekolah," ucap Pieter.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya