Kenapa Darah Membeku Saat Nonton Film Horor?

Secara bercanda, sering dikatakan bahwa menonton film menyeramkan seakan menghentikan aliran darah. Ternyata, secara ilmiah, memang begitu.

oleh Alexander Lumbantobing diperbarui 27 Des 2015, 12:00 WIB
Ilustrasi film 'It' via The Telegraph.

Liputan6.com, Leiden - Menyaksikan hal menyeramkan bisa membuat darah serasa membeku. Istilah ‘darah membeku’ yang dikaitkan dengan hal menyeramkan memang berasal dari abad pertengahan, tapi penelitian ilmiah masa kini membenarkan istilah tersebut.

Para peneliti Belanda telah menelaah kaitan antara ketakutan akut dengan darah yang membeku dan mereka mengatakan bahwa pembekuan itu sebenarnya memiliki manfaat dalam evolusi manusia.

Dikutip dari The Telegraph pada Minggu (27/12/2015), pembekuan darah itu merupakan cara tubuh mempersiapkan kehilangan darah saat menghadapi situasi yang mengancam nyawa.

Para peneliti dibantu oleh 24 sukarelawan berusia di bawah 30 tahun yang sehat. Mereka adalah pelajar, alumni, dan pegawai di Leiden University Medical Centre di Belanda.

Ada 14 orang di antaranya diminta menonton film menyeramkan diikuti dengan tayangan pendidikan yang tidak menyeramkan. Peserta sisanya melakukan urutan sebaliknya.

Menonton film ‘Insidious’(2010) menaikan kandungan faktor VIII rata-rata hingga 11 IU/dl (International Unit/deciliter). Angka ini diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko pengentalan darah.

Cuplikan tayangan 'Insidious 3'. (Sumber The Telegraph)

Kadar agen pengentalan darah meningkat pada 12 (57%) peserta sewaktu menonton film horor. Peningkatan itu terbaca hanya pada 3 (14%) peserta selagi menonton tayangan pendidikan movie 'A Year In Champagne'.

Kadarnya berkurang pada 18 (86%) peserta waktu menyaksikan film pendidikan, tapi hanya berkurang pada 9 (43%) peserta pada saat menonton film horor.

Kata Dr. Banne Nemeth, “Kami mendapati bahwa menonton film horor, atau film ‘pembeku darah’ berkaitan dengan peningkatan pengental darah faktor VIII.”

“Artinya, peningkatan faktor VIII sebesar 11.1 IU/dL yang berkaitan dengan ketakutan akut relevan secara klinis, karena setiap kenaikan hanya 10 IU/dL faktor VIII sudah berkaitan dengan 17% peningkatan risiko trombosis pembuluh.”

Film-film itu yang ditonton secara terpisah dan berjarak lebih dari seminggu, pada jam yang sama dan dalam lingkungan yang nyaman serta santai. Keduanya tayang selama sekitar 90 menit.

Sebelum dan sesudah film, contoh darah dimintakan dari para peserta dan ditelaah untuk mencari ‘faktor ketakutan’ terkait proses pengentalan.

Para peserta juga diminta menilai pengalaman mereka menggunakan angka analog rasa takut, mulai dari angka 0 (tidak takut sama sekali) hingga angka 10 (sangat takut yang masih terbayangkan).

Peserta juga melaporkan apakah mereka pernah menonton film tersebut dan melengkapi pertanyaan umum terkait dengan gaya hidup dan genre film paling disukai.

Film horor dipandang lebih menyeramkan daripada film pendidikan dengan perbedaan angka rata-rata 5,4 pada  ukuran rasa takut.

Namun demikian, para peneliti mendapati tidak adanya dampak film-film tersebut pada protein lain untuk pembekuan darah. Dengan demikian, ditengarai bahwa walaupun pengentalan dipicu oleh ketakutan akut, hal ini tidak menuju kepada pembentukan bekuan darah sebenarnya.

Dr. Nemeth menambahkan, “Mekanisme biologis yang mendasari ketakutan akut terkait dengan peningkatan kegiatan pengentalan masih belum terungkap.”

“Walapun tidak langsung jelas bagaimana caranya hasil ini dapat bermanfaat secara klinis, implikasi yang lebih luas dari hasil penelitian ini adalah bahwa setelah berabad-abad lamanya, istilah ‘darah menyumbat’ pada cerita-cerita masa lalu memang bisa dibenarkan.”

“Pada orang dewasa muda dan sehat, menonton film pembeku darah berkaitan dengan peningkatan faktor VIII untuk pembekuan darah namun tanpa benar-benar terbentuknya trombin.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya