Volatilitas Rupiah Tinggi, Ini Kata Gubernur BI

Rupiah terdepresiasi 5,35 persen ke level Rp 13.783 per dolar AS pada kuartal III 2015 ini.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 23 Okt 2015, 10:34 WIB
Ilustrasi Rupiah (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cukup tinggi sepanjang tahun ini. Di akhir kuartal III, rupiah sempat menyentuh level 14.600 per dolar AS. Namun meskipun volatilitas cukup tinggi, otoritas moneter di Indonesia ini menyebutkan bahwa kurs rupiah masih di bawah kendali mereka.

Gubernur BI, Agus Martowardojo menuturkan, rupiah terdepresiasi 5,35 persen ke level Rp 13.783 per dolar AS pada kuartal III 2015 ini dibanding kuartal sebelumnya yang ada di angka Rp 13.131 per dolar AS.

"Kemudian tekanan kurs mereda pada awal Oktober 2015 seiring penguatan rupiah. Rupiah menguat 6,8 persen ditutup ke level 13.717 per dolar AS per 21 Oktober 2015. Jadi secara year to date, rupiah melemah 9,7 persen," paparnya di Jakarta, seperti ditulis Jumat (23/10/2015).

Menurut Agus, pergerakan atau volatilitas nilai tukar rupiah masih dalam kisaran target BI di bawah 12 persen. BI, lanjutnya, sudah memperkirakan, gejolak kus rupiah kembali normal pada Oktober 2015 setelah mengalami lonjakan volatilitas di September lalu.

"Jadi tidak bahaya. Kami memang tidak ingin ada volatilitasnya yang tinggi untuk memberi kepercayaan pada masyarakat kalau BI menjaga stabilitas kurs rupiah. Jika dilihat beberapa negara berkembang, mata uangnya tertekan dengan volatilitas mencapai 16 persen," jelas Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Sebelumnya, Currency strategist Australia & New Zealand Banking Group Ltd, Singapura, Irene Cheung menuturkan, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih disebabkan penundaan rencana dari bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk kenaikan suku bunga.

Penundaan tersebut memberikan ruang bagi investor kembali menata investasi mereka di negara berkembang termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, rupiah kembali menguat dan Indeks Harga Saham Gabungan pun terus berada di zona hijau.

"Kami melihat aliran dana yang masuk mendukung rupiah, karena pasar tidak yakin The Fed akan serius menaikkan suku pada bulan Desember," kata Irene.

Investor asing telah membeli saham-saham di Indonesia senilai US$ 50 juta dalam 3 hari terakhir, dan Rp 2,43 triliun dalam obligasi pemerintah selama 2 minggu belakangan ini. (Fik/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya