Buwas Usul Bandar Narkoba Dipenjara di Pulau Terluar Paling Hits

Berikut Top 5 News edisi Kamis 8 Oktober 2015.

oleh Anri SyaifulYuliardi Hardjo PutroElin Yunita KristantiAudrey Santoso diperbarui 09 Okt 2015, 07:01 WIB
Komjen Pol Budi Waseso atau Buwas. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Pol Budi Waseso atau Buwas, di mana pun pulau terluar itu yang terpenting dapat membuat para bandar dan pengedar narkoba mati kutu dan terisolasi.

Nah, pernyataan mantan Kabareskrim Polri itu menyedot perhatian pembaca portal berita kesayangan Anda, Liputan6.com, terutama di kanal News sepanjang Kamis 8 Oktober 2015.

Sementara 4 berita lainnya, terutama Buwas membentuk pasukan 'siluman' penumpas mafia narkoba, turut mencuri perhatian banyak pembaca.

Selengkapnya Top 5 News...

1. Buwas Usul Bandar Narkoba Dipenjara di Pulau Terluar

Sejak resmi menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso mengusulkan gagasan untuk mengubah sistem peradilan terhadap orang-orang yang terlibat tindak pidana narkotika. Di antaranya menyarankan agar pemerintah membangun rumah tahanan khusus bagi mafia narkoba di pulau terpencil agar terasingkan.

Buwas mengatakan, pemilihan lokasi pulau yang akan dijadikan penjara mafia narkoba merupakan hak Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly.

"Terserah nanti dari Menkumham. Kami (BNN) nggak boleh menentukan. Ya, kalau saya sih (usul) pulau terluar Indonesia. Jadi jauh dari mana-mana. Kalau dia kabur dengan berenang pun habis dimakan hiu,"  kata ‪Budi Waseso di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu 7 Oktober 2015.

Selengkapnya...

2. 8-10-1895: Pembunuhan Ratu Terakhir Korea dari Dinasti Joseon

Langit masih merah jingga, 8 Oktober 1895, lebih dari 20 pria sangar berpakaian aneh, dengan pedang terhunus, menghambur ke Paviliun Okho-ru, yang berada di dalam kompleks Istana Gyeongbokgung.

Di sana tinggal Maharani Myeongseong, istri Raja Gojong, penguasa Korea ke-26 dari Dinasti Joseon. "Di mana Ratu Min!," teriak mereka ke arah para dayang istana yang pucat pasi, dengan tubuh bergetar ketakutan. Ratu Min adalah sebutan lain sang 'Jungjeon Mama'.

Para penyerang -- dari Resimen Hullyeondae  dan para ronin Jepang -- yang dipimpin Letkol Woo Beomseon menebas 3 perempuan yang mereka duga sebagai wanita utama yang menyamar. Salah satu korban memiliki bekas cacar air pada pelipis. Ciri sang sang ratu.

Setelah yakin jasad berdarah itu adalah Ratu Min, para pembunuh memperlakukan tubuh tak bernyawa itu dengan tak sopan. Mereka lalu membakar jenazah itu di sebuah pohon pinus di depan paviliun dan menyebar abunya.

Sang maharani wafat pada usia 43 tahun. "Setelah beberapa tahun salah satu pembunuh mengaku bahwa mereka melakukan tindakan yang kekejamannya tak bisa diwakili dengan kata-kata terhadap jenazah sang ratu," kata penulis buku tentang insiden pembunuhan itu, Fusako Tsunoda, seperti dikutip dari Chuson Ilbo. Tak hanya dengan pedang, tapi juga katana.

Selengkapnya...

3. Salat Zuhur Berjemaah 83 Kali, Pria Ini Dapat Hadiah Mobil

Pemerintah Kota Bengkulu secara resmi mengumumkan dan menyerahkan hadiah mobil kijang Innova kepada pemenang Salat Zuhur Berjamaah, Marwan AS, pegawai honorer di Dinas Pertanian Kota Bengkulu.

Pada STNK mobil berwarna putih keluaran 2012 itu tercatat atas nama Khairunnisa, istri Walikota Bengkulu Helmi Hasan. Hadiah itu diserahkan Rabu 7 Oktober 2015, usai salat zuhur di Masjid Agung At Taqwa.

Marwan mendapat hadiah itu setelah melakukan salat berjemaah selama 83 kali secara terus-menerus. Namun, dia mengaku belum bisa mengendarai mobil tersebut. Terpaksa dia meminta tolong rekannya untuk membawa pulang mobil itu ke rumahnya di kompleks Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemkot Bengkulu, di Kelurahan Padang Serai, Kecamatan Kampung Melayu.

"Saya belum punya tanah apalagi rumah, rencananya hadiah ini akan saya jual. Untuk apa menyimpan benda mewah ini, sedangkan saya belum memiliki rumah sendiri," ujar Marwan kepada Liputan6.com, Kamis (8/10/2015).

Selengkapnya...

4. Buwas Bentuk Pasukan 'Siluman' Penumpas Mafia Narkoba

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso membeberkan sedang membentuk pasukan 'siluman' untuk memberantas peredaran narkotika. Pria yang akrab disapa Buwas ini berjanji pasukan tersebut akan bersikap seprofesional mungkin dan tidak akan tergiur iming-iming gratifikasi dari sindikat narkotika.

"Saya sedang buat pasukan khusus yang nantinya akan memberantas narkotika dengan profesional dan saya jamin tidak akan berbuat yang melanggar hukum. Mereka berada di bawah saya langsung agar tidak terkontaminasi," ucap Buwas usai menghadiri diskusi bertema 'Bahaya Narkoba di Mapolda Metro Jaya' di Jakarta, Rabu 7 Oktober 2015.

Ia mengatakan, jika pasukan 'silumannya' bergerak, mungkin akan terjadi kegaduhan di dunia gelap narkotika. Itu karena pasukan ini akan mengobrak-abrik bisnis gelap barang haram tersebut di Indonesia tanpa pandang bulu.

Selengkapnya...

5. Tawuran Susulan di Universitas Pancasila, Ini Penampakannya

Tawuran kembali meletus di Kampus Universitas Pancasila di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Perkelahian massal yang diduga melibatkan mahasiswa 2 fakultas ini bahkan telah menghancurkan beberapa ruangan. Bahkan, 1 mobil yang terparkir di halaman kampus dibakar.

Berdasarkan foto yang di-publish akun @kevontw di Twitter yang juga di-tweet oleh akun Traffic Management Center Polda Metro Jaya, @TMCPoldaMetro, mobil yang dibakar diperkirakan Kijang Innova warna hitam.

Tawuran bermula Rabu 7 Oktober 2015 malam tadi sekitar pukul 20.00 WIB. Saat dikonfirmasi Liputan6.com, Polsek Jagakarsa membenarkan kabar tersebut. Keduanya berasal dari Fakultas Teknik dan Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

"Iya benar ada tawuran (dari dua kelompok tersebut). Maaf saat ini saya masih tangani kasus ini. Nanti bisa di-update lagi," ujar Kapolsek Jagakarsa Kompol Sri Bhayangkari saat dikonfirmasi, Rabu malam.

Selengkapnya...

(Ans/Mar)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya