Wall Street Tertekan Peringatan IMF kepada Yunani

Ketiga indeks membukukan kerugian di pekan ini, di mana indeks S & P 500 mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret.

oleh Nurmayanti diperbarui 03 Jul 2015, 04:34 WIB
Reaksi pasar negatif terhadap penyelesaian utang Yunani membuat indeks saham Dow Jones merosot 348,66 poin ke level 17.598.

Liputan6.com, New York - Wall Street memperpanjang penurunannya pada Kamis (Jumat waktu Jakarta) setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan Yunani tentang kemungkinan menghadapi lubang keuangan lebih besar menjelang pelaksanaan Referendum pada Minggu ini. Selain itu rilis data pekerjaan yang mixed ikut mempengaruhi prospek ekonomi AS.

Melansir laman Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 27,8 poin (0,16 persen) ke posisi 17.730,11 poin. Sementara indeks S&P 500 merosot 0,64 poin (0,03 persen) menjadi 2.076,78, dan Nasdaq Composite turun 3,91 poin (0,08 persen) menjadi 5.009,21 poin.

Ketiga indeks jatuh di minggu ini, dengan penurunan S & P 500 menjadi yang terbesar sejak Maret. Dow memiliki penurunan mingguan terbesar sejak April, sedangkan Nasdaq memiliki penurunan mingguan terbesar sejak awal Mei.

IMF memperingatkan bahwa Yunani membutuhkan tambahan 50 miliar Euro selama tiga tahun ke depan untuk tetap bertahan.

Peringatan ini di tengah desakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras kepada para pemilih untuk menolak tawaran bailout dari kreditor dan mengatakan harapan dirinya untuk menandatangani kontrak baru pada Senin nanti.

"Mengingat Referendum Yunani baru dilakukan pada hari Minggu dan liburan akhir pekan, setidaknya untuk saat ini aksi agak teredam dibandingkan dengan sisa minggu ini," ujar Michael Arone, Kepala Strategi Investasi State Street Global Advisors U.S. Intermediary Business.

Volume perdagangan tercatat masih rendah menjelang akhir pekan yang panjang. Pasar AS tidak akan dibuka pada Jumat karena pelaksanaan liburan Hari Kemerdekaan.

Di sisi lain, laporan perlambatan pertumbuhan pekerjaan AS pada bulan Juni, ikut mempengaruhi ekspektasi tentang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September.

Nonfarm payrolls meningkat 223 ribu bulan lalu, ini di bawah perkiraan ekonom sebesar 230 ribu. Sementara penghasilan per jam rata-rata tidak berubah pada bulan Juni, naik 2 persen year to year.

The Fed mengatakan akan menaikkan suku bunga hanya ketika data menunjukkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Investor juga menghadapi ketidakpastian volatilitas di pasar saham China dan krisis utang di Puerto Rico. "Tidak ada cukup kepastian untuk mengambil posisi panjang saat liburan akhir pekan ini," jelas Richard Weeks, Managing Director Hightower Advisors di Vienna, Virginia.

Sekitar 5,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan 7,6 miliar rata-rata selama lima sesi terakhir, menurut data dari BATS Global Markets.(Nrm/Igw)

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya