Membongkar Bisnis 'Esek-esek' Online

Kasus Deudeuh yang tewas dibunuh pelanggan di kosannya menguak fenomena prostitusi online ke ruang publik.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 25 Apr 2015, 00:10 WIB
Ilustrasi PSK di lokalisasi. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Bisnis prostitusi online yang digarap Papi Mike selama 6 bulan kini hancur. Dia pasrah saat jajaran kepolisian dari Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jaya mencokoknya.

Saat itu, ia tengah mengantar 2 'wanita pesanan' kepada seseorang yang menginap di Hotel HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 23 April 2015 pukul 00.30 WIB.

"Kita tangkap seorang laki-laki yang diduga muncikari, biasa disebut papi. Pelaku Mike kami tangkap saat mengantar kedua wanita pekerja seks ini ke hotel," kata Kepala Unit II Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Teuku Arsyad Khadafi, Jumat (24/4/2015).

Papi Mike, lanjut dia, diduga menawarkan jasa pekerja seks kepada pelanggan melalui media sosial Twitter. Polisi menginterogasi ketiganya untuk mengungkap peranan dan membongkar jaringan 'esek-esek' secara online.

Setelah melalui pemeriksaan, kedua PSK itu dipulangkan dan tidak ditahan. Polisi beralasan mereka adalah korban dan belum ada undang-undang yang mengatur hukuman bagi para PSK.

"Mereka hanya ditangkap, tetapi tidak ditahan karena tidak ada pasal tertentu yang bisa menahan mereka," imbuh Arsyad.

Arsyad mengatakan, sejauh ini belum ada undang-undang yang mengatur permasalahan prostitusi online. Sehingga pelaku belum dapat dijerat. Kecuali, para pemasok wanita seperti mucikari dan germo atau yang lebih akrab disebut mami dan papi.

"Beda dengan muncikari. Kalau untuk dia, bisa kami jerat hukum," tukas Arsyad.

Bisnis 'esek-esek' melalui media sosial sebenarnya sudah lama terjadi. Kasus Deudeuh Alfi Sahrin yang tewas dibunuh pelanggan di kosannya, sekaligus menjadi tempat bertransaksi seks menguak fenomena ini ke ruang publik.

Deudeuh ditemukan tewas di kamar kosnya di Tebet Timur, Jakarta Selatan, Sabtu 11 April malam. Dalam kondisi tanpa busana, mulut disumpal kaus kaki hitam, dan lilitan kabel pada lehernya.

Pembunuh Deudeuh, Prio Santoso alias Rio ditangkap di rumahnya, kawasan Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Rabu 15 April dini hari. Rio yang memesan jasa Deudeuh melalui Twitter mengaku membunuh karena sakit hati disebut bau badan oleh Deudeuh.

Koleksi Papi Mike

Puluhan wanita masuk dalam 'katalog' koleksi Papi Mike. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari pelajar hingga wanita profesional.

"Yang dijadikan koleksi ada yang mahasiswa, karyawan, ada yang freelance juga," kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Heru Pranoto di Mapolda Metro Jaya, Jumat (24/4/2015).

Heru menambahkan, puluhan wanita sudah masuk dalam daftar pemuas syahwat itu. Mike hanya tinggal mengirim foto para wanita kepada pelanggan untuk dipilih.

"Mereka juga ada yang dari Surabaya, Yogya, dan beberapa kota lain. Saat sedang di Jakarta mereka memberi tahu tersangka, dia (PSK) sedang di Jakarta dan siap dipesan," imbuh Heru.

Para wanita ini tidak serta merta bergabung dengan jaringan Mike. Namun ada juga wanita yang direkomendasikan oleh pelanggan lamanya untuk bergabung dengan Mike.

"Pembagiannya 30-70. 30% untuk tersangka, 70% untuk mereka," tutup Heru.

Daftar wanita itu, terungkap dari ponsel BlackBerry milik Mike. Melalui layanan Blackberry Messenger (BBM) pula, Mike menjajakan layanan pemuas nafsu itu.

"Ada puluhan. Ini saja yang kita print ada 4 foto kali 7 halaman. Ini yang aktif di BBM tersangka," ujar Heru.

Dia menambahkan, pelanggan cukup memesan wanita pilihan melalui BBM kepada Mike. Nanti, Mike yang akan merekomendasikan beberapa wanita kepada pelanggan untuk dipilih. Setelah dipilih, barulah bertemu di hotel yang sudah ditentukan.

"Tarifnya Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per jam. Bahkan ada yang lebih juga," imbuh Heru.

Cara Sang Papi

Dalam melakukan aksi, Papi Mike memberlakukan sistem member bagi mereka yang akan menggunakan jasanya. Untuk dapat berkencan dengan wanita 'koleksi', pelanggan harus membayar Rp 500 ribu untuk menjadi member.

"Jadi tersangka menggaet pelanggan melalui akun twitter @temanjakarta. Di sana dia mengajak orang, siapa pun yang ingin ditemani wanita cantik bisa hubungi dia, seperti itu lah," kata kata Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Heru Pranoto.

Pelanggan yang berminat dan sudah membayat Rp 500 ribu langsung mendapat PIN BlackBerry Messenger (BBM) Mike. Sang pelanggan juga harus menunjukkan bukti transfer uang berupa foto. Jika tidak, Mike langsung menghapus pelanggan dari kontak BBM.

"Kalau sudah (transfer), pelanggan dikirimi beberapa foto wanita cantik oleh tersangka. Lalu setelah sepakat wanita yang mana, mereka bertransaksi," tukas Heru.

Praktik terselubung tersebut membuat Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa prihatin. Sebab, dia khawatir prostitusi online yang marak terjadi saat ini bukan lagi didasari atas kepentingan ekonomi, melainkan sudah menjadi gaya hidup.

"Karena belum tentu mereka melakukan itu lantaran terjerat utang atau kemiskinan. Belum tentu. Ada kecenderungan, terutama di kalangan teenagers (remaja) itu lifestyle," kata Khofifah usai menghadiri Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial di Hotel Grand Inna Muara, Padang, Sumatera Barat, Minggu 19 April 2015.

Guna mengurangi hal itu, sambung Khofifah, perlu ada pembangunan karakter ke arah yang positif terhadap para remaja.  

"Ini ada kaitan dengan revolusi karakter, restorasi sosial. Antara keduanya ini harus nyambung. Maka ada persoalan karakter yang harus dibangun," tukas Khofifah. (Ali/Ans)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya