Snowberry, Kosmetik Anti-Keriput dari Bahan Alami

Soraya Hendesi, penemu Snowberry.

oleh Liputan6 diperbarui 31 Mar 2015, 13:35 WIB
Soraya Hendesi, penemu Snowberry.

 

Liputan6.com, Jakarta Perusahaan kecantikan asal New Zealand ini terbilang kecil, namun sudah mencatat penemuan baru.

Snowberry yang berasal dari Auckland menampilkan produk anti-keriput di World Congress of Dermatology yang diadakan di Vancouver bulan Juni 2014 lalu seperti dilansir dari laman nzherald.co.nz, Rabu (25/3/2015). Produk yang dinamaan New Radiance Face Serum itu sudah lolos percobaan pharmaceutical di Jerman. Serum itu performanya 31,6 persen lebih unggul dari Strivectin, produk anti-keriput paling terkenal di AS.

New Radiance Face Serum dikembangkan dengan program riset selama 4 tahun dan bekerjasama dengan Sekolah Farmasi Universitas Auckland.

Serum ini mengandung Copper peptide, yaitu zat protein alami yang juga mempunyai manfaat penyembuhan luka dan sering digunakan di produk perawatan kulit. Snowberry menggunakan tekhnologi hak milik yang ber-merek dagang Cu-PEP, yang fungsinya meningkatkan efektifitas peptide dalam menyerap dan membantu peremajaan kulit. 

Manajer Utama perusahaan, Greg Billington membandingkan zat peptide dengan zat Retinoic acid yang kerap ditemukan di produk-produk anti-keriput serupa. Menurutnya, zat peptide lebih unggul, karena tidak seperti Retinoic yang menyebabkan sensitifitas kulit dan bekerja lebih lama.

Snowberry didirikan oleh Soraya Hendesi yang cita-citanya adalah untuk menyediakan produk perawatan kutit yang autentik. Produk ini berbahan dasar tanaman lokal Harakeke dan dipasakan sebagai produk alami premium New Zealand. Serum ini telah diekspor dan sudah dipasarkan dengan harga 40 dolar Australia (setara 408.000 rupiah) setiap satu kemasan 30 ml.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya