Basarnas Hentikan Operasi AirAsia, Posko Crisis Center Ditutup

Namun begitu, AirAsia belum memastikan waktu tepat penutupan posko crisis center di Surabaya.

oleh Dian Kurniawan diperbarui 03 Mar 2015, 23:45 WIB
Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widiyatmoko. (Moch Harun Syah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widiyatmoko mengatakan pihaknya berencana menutup posko crisis center di Gedung Mahameru Mapolda Jawa Timur. Hal ini menyusul penghentian operasi pokok pencarian korban QZ8501 oleh Basarnas.

"Kami memang berencana akan menutup posko crisis center atau ruang tunggu ini," kata Sunu setelah berkoordinasi dengan pihak keluarga di Mapolda Jatim, Selasa (3/3/2015).

Dia menambahkan posko crisis center ini merupakan ruang tunggu bagi keluarga selama proses identifikasi, termasuk membantu keluarga dalam mengumpulkan data antemortem yang dibutuhkan tim DVI.

"Selain itu, korban AirAsia di Rumah Sakit Bhayangkara sudah tinggal enam body dan body part, sehingga saya pikir tidak membutuhkan ruangan ini," imbuh dia.

Dan saat ditanya mengenai kapan waktu yang tepat untuk menutup posko crisis center itu, dirinya mengaku belum mengetahui waktu yang tepat. Pihaknya saat ini masih mencari waktu untuk penutupan ruang keluarga itu.

"Tinggal nunggu waktunya saja," tandas Sunu.

Hal senada disampaikan Ketua tim DVI Kombespol Budiyono. Dia menyebut saat ini ada enam korban yang belum berhasil teridentifikasi. Karenanya ia menganggap tak perlu ruangan besar di Gedung Mahameru ini.

"Gedung ini cukup besar, jadi tidak perlu gedung ini lagi," ujar Budiyono.

Selain itu, lanjukt Budiyono, pihak keluarga akhir-akhir ini sudah sedikit yang mengunjungi Mapolda Jawa Timur. Terlebih setelah operasi pokok tim DVI sejak hari ini sudah ditutup.

"Jadi, apabila ada keluarga keenam jenazah yang ada di rumah sakit itu ingin berkunjung, bisa langsung ke rumah ke rumah sakit Bhayangkara," imbuh dia.

Hingga kini, total jenazah korban AirAsia yang tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya berjumlah 104 jenazah, termasuk non-human atau monyet. Sedangkan jenazah yang sudah berhasil teridentifikasi, baik tubuh utuh maupun bagian tubuh, sebanyak 98 jenazah.

Rinciannya, 44 berjenis kelamin perempuan, 50 laki-laki, 1 monyet, dan 3 bagian tubuh korban milik jenazah yang sudah berhasil teridentifikasi.

"Sisanya yang masih dilakukan proses rekonsiliasi terdapat enam jenazah, dengan rincian tiga jenazah yang masih relatif utuh dan tiga lainnya dalam bentuk potongan tubuh," pungkas Budiyono. (Ali)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya