Semprotan Merica Pukul Mundur Pendemo 'Payung' Hong Kong

Demonstran pro-demokrasi Hong Kong kembali bentrok dengan polisi ketika mereka berupaya mengepung markas pemerintah Minggu malam.

oleh Tanti Yulianingsih diperbarui 01 Des 2014, 08:07 WIB
Pendemo Hong Kong. (VOA News)

Liputan6.com, Hong Kong - Demonstran pro-demokrasi Hong Kong kembali bentrok dengan polisi, ketika hendak mengepung markas pemerintah Minggu malam 30 November 2014 waktu setempat. Mereka berupaya meningkatkan gerakan demi tercapainya reformasi demokrasi sesungguhnya, setelah berkemah di jalan-jalan kota itu selama lebih dari dua bulan.

Mengulangi peristiwa yang kerap terjadi sejak gerakan itu dimulai akhir September lalu, para demonstran yang membawa payung -- dan kini menjadi simbol gerakan pro-demokrasi Hong Kong -- bentrok dengan polisi yang bersenjatakan semprotan merica, pentungan dan pelindung anti huru-hara.

Setelah para pemimpin mahasiswa mengatakan kepada kerumunan massa yang berkumpul di luar markas pemerintah bahwa mereka akan meningkatkan aksi, ratusan demonstran pun berjalan melewati garis polisi yang mengeliling kompleks itu.

Demonstran memblokir lalu lintas di sebuah jalan utama, tetapi aksi menuju kantor kepala eksekutif Hong Kong Leung Chun-Ying itu dihentikan polisi.

"Kami ingin menduduki jalan hingga Senin pagi supaya Leung dan pejabat-pejabat pemerintah lainnya tidak bisa memasuki kantor. tetapi polisi membubarkan demonstran secara agresif, memukul mundur dengan pentungan dan semprotan merica," teriak para demonstran seperti dikutip dari VOA News, Senin (1/12/2014).

Menurut Federasi Mahasiswa Hong Kong, polisi menangkap sedikitnya lima demonstran.

Hong Kong dilanda protes besar setelah sebagian besar warga meminta adanya pemilihan langsung. Namun, sampai saat ini Pemerintah China bersikeras tidak mendengar permintaan demonstran Hong Kong.

Walau begitu, Pemimpin Hong Kong terus mencari cara agar wilayah yang dipimpinya kembali kondusif. Bahkan dalam satu kesempatan Leung menjanjikan bahwa pada 2017 Hong Kong akan lebih demokratis.

Dalam bentrokan sebelumnya, bagian luar gedung parlemen Hong bahkan hancur oleh para pendemo yang kalap.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya