Liputan6.com, New York - Tekanan di tempat kerja akan menjadi beban yang datang silih berganti selama Anda bergulat di dunia kerja. Tak pandang pria atau wanita, tekanan yang terlalu berat bahkan bisa membuat pegawai di berbagai posisi dalam perusahaan mengurai air mata.
Seperti dikutip dari Forbes, Selasa (20/5/2014), sebuah penelitian bertajuk `It’s Always Personal: Emotion in the New Workplace` menemukan, pria dan wanita dengan jabatan apapun mengangis karena pekerjaannya. Bahkan sepanjang 2010, terdapat 41% wanita dan 9% pria yang menangis karena pekerjaannya.
Advertisement
Kondisi tersebut tetap terjadi meskipun pegawai yang menangis di tempat kerja dianggap tidak profesional. Mengingat dunia karir lebih didominasi para pria, maka seringkali wanita didorong untuk bersikap seperti kaum adam tersebut.
Para wanita dituntut untuk tidak lemah dan membuat orang lain tidak nyaman karena emosi femininnya. Kondisi tersebutlah yang pada akhirnya memicu jauh lebih banyak wanita menangis di tempat kerjanya.
Tapi berdasarkan penelitian tersebut, para partisipan justru menganggap tangisan sebagai salah satu cara untuk memperlancar proses berkarir. Para pegawai wanita mengatakan, menangis sama sekali tidak mempengaruhi kesuksesannya.
Sejauh ini, beberapa penelitian membuktikan airmata bukan cara yang efektif dimunculkan di tempat kerja. Pasalnya, ini dapat menganggu hubungan antar pegawai atau dengan atasan.
Lagipula, tangisan di tempat kerja dapat memunculkan rasa tidak nyaman dan ganjil. Menangis juga sebaiknya tidak digunakan untuk memanipulasi kondisi agar Anda memperoleh apa yang diinginkan. Dalam kondisi tertentu, sebaiknya Anda minum segelas air untuk menenangkan diri dibandingkan mencucurkan air mata. (Sis/Ndw)