Sementara hingga Sabtu (16/12) siang, proses pencarian tetap dilanjutkan. Sebab, penduduk setempat mengungkapkan masih ada 12 warga lagi yang belum ditemukan. Evakuasi korban longsor menggunakan alat berat di seputar Masjid Nurul Huda. Diperkirakan di dalam masjid terdapat delapan remaja lelaki yang tertimbun, dua di antaranya ditemukan kemarin sore. Pencarian sempat terhenti tadi malam karena hujan dan tidak adanya penerangan.
Pemerintah Kabupaten Solok belum bisa memastikan relokasi ratusan warga di Bukit Sarasah selesai dijalankan. Soalnya, mereka masih memfokuskan pencarian korban longsoran. Selain itu masalah relokasi juga harus dibicarakan dengan DPRD setempat, termasuk dengan masyarakat di Jorong Koto Baru, Kecamatan Lembah Gumanti. Di sana hidup 40 kepala keluarga atau sekitar 200 orang.
Advertisement
Kecamatan Lembah Gumanti selama ini dikenal sebagai daerah perbukitan yang sejuk dan nyaman. Suhu di malam hari mencapai 16 derajat Celsius. Dan di siang hari suhu sekitar 23 derajat Celsius membuat wilayah tersebut nyaman untuk dijadikan permukiman.
Tapi di balik kenyamanan, berdasarkan pengamatan ahli geologi setempat, lokasi tersebut merupakan daerah yang rawan tanah longsor. Identifikasi itu sudah muncul sejak lama karena letak Kecamatan Lembah Gumanti berada di patahan (sesar) Sumatra di sepanjang sisi baratnya. Kondisi ini membuat struktur tanah mudah berubah dan karenanya rawan gempa.
Selain itu kawasan yang merupakan alur Bukit Barisan ini juga rawan longsor. Sebab lapisan tanahnya lapuk dengan komposisi batuan sabak dan batu pasir yang menyebabkan daya serap tanah terhadap air sangat kurang. Satu-satunya jalan untuk menghindari terjadinya korban jiwa adalah dengan merelokasi warga yang ada di bukit itu.
Sudah beberapa kali sejumlah daerah di kawasan itu mengalami bencana akibat buruknya struktur tanah tersebut. Misalnya, pada akhir tahun silam wilayah Kutacane, Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam, diterjang banjir bandang. Saat itu 21 orang meninggal [baca: Korban Tewas Banjir Bandang Bertambah].
Sebelumnya pada November 2003, lokasi wisata Bahorok di Sumatra Utara juga mengalami bencana serupa. Korbannya hampir mencapai 200 orang [baca: Korban Banjir Sungai Bahorok Menuntut Janji Pemerintah]. Terakhir longsor melanda Kanagarian Aia Dingin, Solok, kemarin.
Kondisi struktur tanah yang tidak baik diperparah dengan terabaikannya kelestarian hutan menjadi biang keladi musibah terjadi. Beberapa indikasi menunjukkan, penebangan liar kayu di sepanjang kawasan ini belum terhenti. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka tampaknya daerah-daerah lain tinggal menunggu giliran tertimpa bencana.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)