Mahasiswa Bakar Ban Saat Demo, Kapolresta Solo Balas dengan Guyonan

Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko mengawal demonstrasi BEM UNS di Solo dengan pendekatan humanis: berguyon, membaur, dan membagikan air mineral.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 22:47 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan anggota BEM Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar demonstasi, Kamis (22/10/2026). Massa sempat membakar ban dan memblokade jalan.

Merespons hal ini, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko memilih mendekat dan membaur. Pendekatan humanis itu membuat suasana yang biasanya tegang terasa lebih cair bagi peserta aksi.

Aksi mahasiswa berlangsung di Bundaran Gladag. Selain di lokasi tersebut, massa juga sempat menyuarakan orasi di depan Balai Kota Solo.

Tak ada barikade dan tak ada jarak. Condro berdiri bersama mahasiswa, menyimak orasi yang bergantian disampaikan dari tengah kerumunan.

Mbah Con, sapaan akrabnya, mengajak mahasiswa guyon sehingga tensi mereda dan tawa beberapa kali pecah di sela-sela orasi. Suasana lapangan yang biasanya kaku berubah menjadi dialogis.

Sejumlah personel Polresta terlihat mondar-mandir membagikan air mineral kepada mahasiswa yang kehausan setelah lama berorasi. Langkah itu membuat ritme aksi tetap tertib dan terjaga.

Di hadapan peserta aksi, Condro menegaskan peran polisi sebagai pelayan masyarakat.

"Kami di sini melayani, bukan mengamankan yang sudah aman. Insha Allah, mahasiswa di Solo sudah dewasa dan bisa menyampaikan aspirasinya dengan baik serta kondusif," ujar Condro.

Ia memandang demonstrasi sebagai hak warga dan memastikan ruang penyampaian pendapat berlangsung nyaman.

"Kami ingin mahasiswa merasa nyaman. Polisi bukan untuk ditakuti, tetapi hadir sebagai sahabat masyarakat. Mereka menyampaikan aspirasi, kami memberikan pelayanan," tegasnya.

Sementara itu, koordinator aksi, Yusnindar Hasan menyampaikan aksi ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan dan bagian dari gelombang kritik nasional dalam momentum evaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.

"Kami menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran telah gagal dalam menangani berbagai persoalan bangsa. Mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung tuntas, hingga berbagai kebijakan yang kami anggap tidak berpihak kepada rakyat," ujar Hasan.

Aksi dimulai sekira pukul 15.00 WIB dari depan Balai Kota Solo. Setelah melakukan orasi, massa kemudian bergerak berjalan kaki (long march) menuju kawasan Bundaran Gladag.

Sesampainya di Perempatan Gladag, sejumlah peserta aksi kembali berorasi dengan tuntutan yang sama. Menjelang akhir aksi, massa mahasiswa mulai memenuhi badan jalan. Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas menuju balai kota, keraton dan Pasarkliwon terhambat

Kondisi sempat panas saat peserta aksi membakar ban bekas. Kepulan asap hitam pekat memenuhi ujung jalan utana kota. Aparat kepolisian dari Polresta Surakarta tampak berjaga di lokasi untuk mengamankan jalannya aksi dan melakukan rekayasa lalu lintas.

Usai Magrib, massa berangsur meninggalkan lokasi demo dengan tertib. Mereka juga berjanji akan terus menggelar aksi serupa jika tuntutan mereka tidak direspons oleh pemerintah pusat.

Â