Riset: Separuh Perusahaan di Asia Pasifik Gagal Penuhi Target Modernisasi IT

Strategi modernisasi IT kini menuntut orkestrasi bisnis yang matang, bukan sekadar konsolidasi teknologi semata.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 15:10 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kyndryl merilis Modernization Report global pertamanya dengan menyoroti dinamika perusahaan di kawasan Asia Pasifik.

Riset ini menemukan bahwa seiring perluasan investasi pada platform lama maupun modern, strategi modernisasi kini menuntut orkestrasi bisnis yang matang, bukan sekadar konsolidasi teknologi semata.

"Di kawasan Asia Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya," ujar Vice President & Managing Director untuk ASEAN & Korea di Kyndryl, Megawaty Khie.

Menurutnya, sebagaimana dikutip dari Modernization Report Kyndryl, Rabu (28/10/2026), organisasi membutuhkan kedua aspek tersebut secara beriringan di tengah lingkungan teknologi yang kian terdistribusi.

Riset ini melibatkan 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi dari lima benua dan 12 industri, di mana 30 persen responden berasal dari kawasan Asia Pasifik.

Hasilnya menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) mengubah prioritas investasi sekaligus memicu tantangan baru pada model operasional perusahaan.

Di wilayah ini, posisi AI bersaing ketat dengan berbagai prioritas modernisasi lainnya. Peningkatan kinerja, keamanan, serta integrasi mencatatkan angka 36 persen, sama persis dengan peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta peningkatan kendali dan tata kelola.

Sementara itu, penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih berada di angka 34 persen.

 

AI Jadi Pendorong Utama

Menariknya, AI terbukti menjadi pendorong utama dalam lonjakan penggunaan mainframe dan komputasi edge.

Teknologi ini juga menjadi katalis terbesar kedua untuk ekspansi SaaS dan private cloud, sekaligus alasan utama bagi perusahaan untuk meningkatkan kualitas jaringan serta portofolio aplikasi mereka.

Bahkan, seluruh organisasi yang masih mengoperasikan mainframe kini berencana menyematkan AI ke dalam platform tersebut.

Kendati demikian, hambatan masih menghantui. Sebanyak 49 persen organisasi di Asia-Pasifik tercatat terlambat mencapai target modernisasi mereka.

Dari kelompok yang menunda proyek ini, 44 persen mengeluhkan pembengkakan biaya jangka panjang, 43 persen gagal mengadopsi kapabilitas baru secara cepat, serta 38 persen menghadapi kerentanan baru dalam aspek keamanan maupun kepatuhan regulasi.

Untuk mempercepat proses tersebut, Agentic AI, teknologi yang mampu merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri, mulai dilirik.

Meski adopsinya masih berada di tahap awal dengan 10 persen organisasi di Asia-Pasifik yang telah menggunakannya pada fase produksi, teknologi ini diandalkan untuk meredam kerumitan tugas seperti pemetaan dependensi, konversi kode, hingga pembuatan dokumentasi.

 

3 Poin Krusial

Studi Kyndryl juga menggarisbawahi tiga poin krusial lainnya:

  • Transformasi Lintas Sektoral: Modernisasi telah bergeser dari sekadar urusan teknis IT menjadi keputusan strategis di tingkat dewan direksi, melibatkan hingga sembilan kelompok pemangku kepentingan mulai dari CIO, CTO, hingga tim keuangan dan kepatuhan.
  • Faktor Geopolitik dan Kedaulatan: Pertimbangan sovereignty kian mendominasi strategi perusahaan. Sebanyak 37 persen organisasi menangani kedaulatan secara selektif saat ada tuntutan eksternal, dan 65 persen berencana meningkatkan penggunaan sovereign cloud dalam setahun ke depan.
  • Kompleksitas Infrastruktur: Temuan ini mematahkan asumsi bahwa transformasi digital akan berujung pada satu lingkungan teknologi tunggal, sehingga menuntut koordinasi tata kelola dan ketahanan siber yang jauh lebih terintegrasi.