Benarkah Meta Gunakan AI untuk PHK Massal?

Meta digugat karyawan karena menggunakan AI untuk melakukan PHK massal. Benarkah?

Diterbitkan 16 Juli 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, perusahaan tidak hanya menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alasan memecat karyawan. Namun, mereka sudah berada di tahap meminta saran kepada AI untuk memilih siapa yang akan dipecat.

Berdasarkan laporan dari Reuters, terdapat 26 karyawan menggugat Meta karena menggunakan sistem AI internal dalam menentukan target pemutusan hubungan kerja (PHK) massal awal tahun ini.

Dilansir Futurism, Kamis (16/7/2026), dalam gugatan disebutkan Meta menggunakan AI untuk memangkas jumlah karyawan berpacu pada metrik produktivitas yang tidak transparan.

Selain itu, diduga menggunakan token Large Language Model (LLM), yang secara tidak adil menyasar penyandang disabilitas, cuti karena melahirkan, dan cuti sakit. 

26 penggugat ini terdiri dari insinyur, manajer, peneliti, dan desainer, serta direktur yang memiliki akses langsung ke platform AI ini.

Hampir setengah penggugat menyatakan pemutusan kerja mereka terjadi akibat mengambil cuti melahirkan atau cuti orang tua. Cuti yang dilindungi hukum ini justru tidak diperhitungkan oleh sistem “Checkpoint” milik Meta.

Karyawan lain juga mengaku dipecat setelah mengambil cuti medis terkait disabilitas, cuti berduka, atau cuti merawat keluarga yang sakit.

Bukti Kuat Gugatan

Dalam beberapa kasus, penggugat diperingatkan Meta agar tidak mengambil cuti. Contohnya pada direktur yang mengatakan dirinya dilarang manajer mengambil cuti medis yang disarankan oleh dokter.

Hal tersebut dikhawatirkan akan dijadikan manajer sebagai alasan kena PHK, sehingga disebutkan kasus ini memperkuat klaim sistem “Checkpoint” milik Meta gagal membedakan antara cuti karyawan dengan yang tidak aktif bekerja.

Gugatan ini bermaksud untuk menghalangi Meta memecat 26 karyawan. Dikarenakan adanya perjanjian kontrak, mereka harus melayangkan gugatan masing-masing.

“Keputusan manajemen tenaga kerja dan organisasi selalu dibuat oleh manusia dan bukan AI,” Ucap juru bicara Meta memberi pernyataan kepada Reuters.