Sukses

Kaspersky Ungkap Bayangan Jika Dunia Tanpa Keamanan Siber: Distopia Digital

Liputan6.com, Jakarta - Seiring dengan berkembangnya teknologi, keamanan siber pun semakin penting. Namun, pakar di perusahaan keamanan siber global Kaspersky mengungkapkan apa yang terjadi di dunia apabila tidak ada yang namanya keamanan siber.

Vitaly Kamluk, Direktur Global Research & Analysis Team (GReAT) untuk Asia Pasifik (APAC) di Kaspersky mengatakan, kemungkinan terjadinya distopia digital ada jika entitas pertahanan online dihapus dari realitas.

Menurutnya, hal itu mungkin saja terjadi jika dunia tak punya perusahaan, solusi, dan layanan keamanan siber.

Kamluk, melalui siaran persnya, ditulis Minggu (11/9/2022) mengatakan, diproyeksikan bahwa pengeluaran keamanan siber secara global akan tumbuh menjadi USD 460 miliar di tahun-tahun mendatang.

Menurutnya, angka tersebut hampir dua kali lipat pengeluaran kumulatif tahun 2021 dan hampir sebesar total PDB (produk domestik bruto) Thailand saat ini, sebagai contoh.

"Lanskap ancaman saat ini dapat meningkatkan proyeksi tersebut jika kita ingin mempertimbangkan situasi nyata di seluruh dunia," kata Kamluk.

"Jadi, wajar untuk bertanya mengapa kita harus berinvestasi begitu banyak ke dalam keamanan siber dan apakah situasi akan lebih baik jika mengalokasikan dana yang dimiliki untuk hal lain," imbuhnya.

Kamluk mengatakan, hidup di dunia tanpa keamanan siber akan membuat tidak adanya enkripsi, privasi, dan kerahasiaan; tidak ada kontrol akses; serta tidak ada validasi integritas.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Membuka Pintu Penjahat Siber

Namun, menghapus entitas pertahanan dunia maya membuka pintu lebar bagi para pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi data pengguna.

Mulai dari informasi keuangan, kemungkinan masalah kesehatan, rencana perjalanan, pengeluaran, dan banyak lagi, dapat dieksploitasi oleh para penjahat siber.

Akan ada juga kemungkinan pembelian palsu, dengan setiap orang bisa mengklaim identitas seseorang untuk mebmeli dan bahkan mentransfer uang.

Tanpa kontrol akses, pemungutan suara dan survei elektronik dapat dicurangi untuk kepentingan pihak tertentu. Tidak ada juga yang akan memiliki akun pribadi online, karena tidak akan ada yang bersifat personal.

Tanpa adanya validasi integritas juga akan membuat berita dan informasi tidak bisa dipercaya, dengan merajalelanya berita palsu dan disinformasi.

 

3 dari 4 halaman

Distopia Digital

Masyarakat tak bisa mempercayai teknologi apapun yang mereka gunakan, atau informasi apa pun yang dibaca. Karena pada dasarnya, semua bisa dipalsukan di dunia tanpa keamanan siber.

"Saya melihat dunia tanpa keamanan siber sebagai distopia digital, di mana tidak ada yang dapat sepenuhnya memanfaatkan peluang yang dibawa oleh teknologi terbaru yang ada di tangan kita," kata Kamluk.

Ia melanjutkan tanpa perusahaan dan solusi yang hadir untuk melindungi data kita, identitas kita, berita yang kita konsumsi, serta aplikasi dan perangkat yang kita gunakan.

"Kita akan dibiarkan sendiri untuk mengarungi risiko dan saya yakin tidak ada yang akan memilih untuk melakukannya di tengah kehidupan yang penuh kekacauan seperti ini," ujarnya.

Keamanan siber, sering menjadi bagian tak terlihat dari kehidupan yang kerap dianggap remeh. Padahal, kata Kamluk, masyarakat berhutang banyak untuk kemudahan yang telah membawa kita pada pencapaian peradaban saat ini.

 

4 dari 4 halaman

7,2 Miliar Serangan

Kaspersky dari Juli 2021 hingga Agustus 2022, telah mendeteksi dan memblokir lebih dari 7,2 miliar serangan oleh objek berbahaya termasuk malware dan konten web berbahaya di seluruh dunia.

Dari Kaspersky juga menunjukkan, pada Agustus 2021 hingga Juli 2022, Asia Pasifik tampaknya menjadi kawasan yang rentan.

Menurut datanya, satu dari setiap tiga (35 persen) deteksi objek berbahaya yang terdeteksi oleh Kaspersky secara global menargetkan pengguna dari wilayah tersebut.

India, Jepang, Vietnam, Cina, dan Indonesia adalah lima negara teratas dalam hal upaya infeksi, menurut Kaspersky.

(Dio/Ysl)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.