Sukses

Telegram Hapus Ratusan Pesan Berisi Hasutan Kekerasan di AS

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri TelegramPavel Durov, menyebut Telegram telah menghapus ratusan pesan berisi hasutan untuk melakukan kekerasan di AS. Hal ini dilakukan seiring meningkatnya ketegangan politik di AS.

Menurut Pavel Durov, penghapusan pesan berisi hasutan melakukan kekerasan itu sesuai dengan persyaratan layanan Telegram.

Dalam unggahan publiknya, Pavel Durov menekankan, Telegram berkomitmen untuk melarang seruan yang memicu kekerasan.

"Telegram menyambut baik debat dan protes damai. Namun Persyaratan Layanan kami secara eksplisit melarang penyebaran seruan publik untuk melakukan kekerasan," kata Pavel Durov, dikutip dari The Verge, Selasa (19/1/2021).

Pavel Durov lebih lanjut mencontohkan debat dan protes damai dimaksud, antara lain gerakan sipil di seluruh dunia bergantung pada Telegram untuk membela hak asasi manusia tanpa menimbulkan kerugian.

2 dari 3 halaman

Moderator Bisa Baca Pesan Telegram

Dengan pengumuman Pavel Durov tersebut, Telegram tidak mendukung fitur obrolan terenkripsi yang melindungi percakapan dari akses luar dan harus tunduk pada moderasi terpusat.

Telegram juga cukup keras melawan kekerasan dan terorisme di ruang publik, namun sejauh ini perusahaan konsisten menolak pesannya diakses oleh penegak hukum.

Pavel Durov mengatakan, Telegram melihat adanya lonjakan dalam hal seruan kekerasan yang dilaporkan oleh platform AS lainnya selama sebulan terakhir.

"Pada awal Januari, tim moderasi Telegram mulai menerima peningkatan jumlah laporan tentang aktivitas publik terkait AS di platform kami," kata Pavel Durov.

3 dari 3 halaman

Ratusan Pesan Dihapus

Ia melanjutkan, tim Telegram kemudian bertindak tegas dengan membekukan channel terkait AS yang menyerukan kekerasan.

"Berkat upaya ini, minggu lalu moderator kami memblokir dan menutup ratusan hasutan untuk melakukan kekerasan yang bisa menjangkau puluhan ribu pelanggan jika tidak dihapus," kata Pavel Durov.

Telegram melihat peningkatan signifikan oada pengguna selama dua minggu terakhir, setelah adanya pembaruan kebijakan privasi WhatsApp yang membuat banyak pengguna mencari alternatif lain.

Pada saat yang sama, Signal juga mendapatkan jutaan pengguna baru yang membebani infrastrukturnya dan menurunkan akses telekomunikasi selama dua hari terakhir.

(Tin//Ysl)