Sukses

Peneliti: Masker Lebih Efektif Cegah Covid-19 saat Naik Ojol

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Virologi dari Universitas Airlangga, Prof. dr Chairul Anwar Nidom, menyebut masker tetap menjadi solusi terbaik saat beraktivitas, termasuk saat menggunakan ojek online (ojol) dan taksi online.

Ia berujar, alasannya karena virus corona penyebab Covid-19 kini dapat menular lewat udara seperti virus flu. Namun, penggunaan masker harus tepat sehingga mampu menepis virus yang menempel di masker.

"Bukan masker biasa, minimal menggunakan masker bedah. Atau saat ini sudah ada bahan kain yang dilapisi dengan suatu bahan yang bisa menetralisir virus dan ukuran pori dari masker tidak boleh lebih dari 5 mikron," papar Nidom melalui keterangannya, Selasa (11/8/2020).

Dengan ketaatan masyarakat menggunakan masker, ia berpendapat virus corona bisa ditepis, baik saat naik ojol atau sedang kumpul dengan orang lain.

Nidom menambahkan, adanya transmisi virus melalui udara membuat jaga jarak jadi tidak banyak berpengaruh. Jaga jarak dengan minimal 1 meter diasumsikan penularan melalui droplet. Sebab lontaran droplet diperkirakan sejauh 1 meter. Untuk itu ia meminta masyarakat tidak meremehkan virus corona.

"Dengan diketahui penularanya bisa melalui udara, maka jarak berapapun akan bisa dijangkau oleh virus tersebut," ucapnya.

 

2 dari 3 halaman

Virus Corona Tak Bertahan di Udara

Hal ini juga ditegaskan Peneliti Mikrobiologi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Asril, yang mana virus corona tidak bertahan di udara dengan pertukaran udara yang bebas seperti saat mengendarai motor.

"Virusnya itu akan bertahan di udara yang aliran pertukarannya terbatas. Jika kondisinya di ruang terbuka resiko penularan cenderung rendah. Penularan melalui udara yang disampaikan oleh WHO adalah di dalam ruangan tertutup yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik," papar Asril. Ia menyimpulkan, menggunakan layanan ojol dipastikan aman selama menggunakan masker.

"Driver dan penumpangnya pakai masker pastinya sudah sangat aman untuk mengurangi penyebaran dan kontaminasi ke tubuh," tukas Asril.

Sama halnya saat menggunakan taksi online, Asril menyarankan tetap menggunakan masker.

"Masker is the best solution, AC dimatikan dengan kaca dibuka, seharusnya pertukaran partikel virusnya dengan udara akan bagus, viral load-nya akan berkurang," paparnya.

 

3 dari 3 halaman

Apa Itu Viral Load?

Viral load sendiri, lanjut Asril, ibaratnya jumlah partikel virus yang siap untuk menginfeksi. Selama viral load-nya rendah, maka virus akan sulit menempel pada reseptornya yang ada di nasofaring (saluran pernafasan).

Selain itu, penggunaan sekat pada taksi online menurut Asril merupakan ide yang kreatif. Hal itu dapat mencegah penularan selama pertemuan langsung terjadi antara pengemudi dan penumpang. Namun agar lebih aman, ia menyarankan kendaraan didisinfeksi secara rutin.

Lebih lanjut, Asril menjelaskan airborne disease oleh WHO adalah bagian aerosol yang ukurannya sangat kecil yang memuat virus dan masih melayang di udara.

"Kalau droplet yang ukuran besar, karena ada gravitasi maka akan jatuh ke lantai, tanah atau lainnya. Nah, aerosol ini ukurannya sangat kecil sehingga masih bisa melayang-layang di udara, akibat adanya sirkulasi udara yang sedikit maka ini bisa menyebar kemana-mana," Asril menandaskan.

(Isk/Why)