Sukses

Ikut Boikot Facebook, Aplikasi Chatting Viber Setop Pakai GIPHY

Liputan6.com, Jakarta - Aksi boikot Facebook ternyata masih berlanjut. Terbaru, giliran aplikasi chatting Viber dari Rakuten yang memutuskan untuk ikut serta dalam aksi boikot tersebut.

Dikutip dari Phone Arena, Jumat (26/6/2020), Rakuten mengatakan Viber sudah menyetop pengeluaran iklan yang dipasang di Facebook maupun Instagram. Tidak hanya itu, Viber juga sudah menghentikan layanan yang terhubung dengan raksasa media sosial itu.

Salah satu yang dilakukan Viber adalah menyetop layanan yang memungkinkan pengguna masuk aplikasi chatting itu dengan akun Facebook. Selain itu, Viber juga menghentikan dukungan GIPHY yang baru saja dibeli Facebook.

"Facebook terus saja memperlihatkan pemahamanan yang buruk mengenai peran mereka di dunia saat ini. Mulai dari kesalahan penanganan data dan kurangnya privasi dalam aplikasi mereka," tutur CEO Viber, Djamel Agaoua.

Dengan keputusan untuk menyingkirkan layanan Facebook, Rakuten juga menyadari dapat membuat pengguna kurang nyaman dan merusk strategi pemasaran. Namun, perusahaan masih yakin itu bukan akhir dari aplikasi Viber, meski mengakui keputusan ini sulit.

Viber sendiri menambah daftar merek yang telah menunjukkan komitmennya untuk memboikot Facebook Ad. Salah satu merek ternama yang juga tergabung dalam kampanye #StopHateForProfit ini adalah North Face.

2 dari 3 halaman

Deretan Merek Ternama Dukung Boikot Facebook Ad

Sebagai informasi, kampanye boikot Facebook Ad kini tengah mengemuka di kalangan merek (brand) dan agensi periklanan. Gerakan itu muncul sebab Facebook dianggap tidak serius dalam mengatasi ujaran kebencian dan misinformasi di platformnya.

Selain North Face, merek lain yang juga menyusul bergabung dalam kampanye ini adalah REI. Selain Facebook Ad, merek apparel outdoor ini juga akan melakukan boikot iklan di Instagram.

Lalu ada pula platform freelance Upwork yang mengatakan menunda iklannya di Facebook pada bulan Juli. Baru-baru ini, brand Patagonia juga melakukan hal serupa.

Menyusul brand sebelumnya, CMO dari perusahaan password manager Dashlane, Joy Howard, juga mengambil sikap senada. Mereka akan menghentikan unggahan berbayar dan organik di Instagram maupun Facebook.

Selain sejumlah brand, agensi periklanan terkemuka 360i juga mendorong kliennya untuk bergabung dengan gerakan untuk memboikot Facebook Ad.

3 dari 3 halaman

Awal Mula Gerakan Ini Muncul

Praktik moderasi konten di platform Facebook disebut menjadi salah satu pemicu awal gerakan ini. Termasuk ke dalam gerakan ini adalah National Association for the Advancement of Colored People (NAACP), Color of Change, dan Anti-Defamation League.

Mereka mengatakan tidak akan mendukung perusahaan yang lebih mengutamakan keuntungan.

"Facebook tetap tidak mau mengambil langkah signifikan untuk menghapus propaganda politik dari platformnya," kata Presiden dan CEO di NAACP Derrick Johnson dikutip dari Forbes.

Dia menilai Zuckerberg dan perusahaannya tidak hanya sekadar lalai, tetapi juga berpuas diri dalam penyebaran misinformasi di platformnya.

"Tindakan semacam ini akan menjungkirbalikkan integritas Pemilihan Umum mendatang. Kami tidak akan mendukung hal ini," ujar Derrick. 

(Dam/Ysl)