Sukses

5 Modifikasi Genetika Canggih Besutan Ilmuwan Tiongkok, Apa Saja?

Liputan6.com, Jakarta - Tiongkok adalah negara yang maju dari sisi teknologi. Tak hanya memproduksi hampir seluruh hardware elektronik yang ada di dunia, di dunia sains Tiongkok juga menjadi yang terdepan.

Hal ini terbukti dari deretan studi yang dihelat ilmuwan Tiongkok, terutama soal genetika.

Dalam hal ini, ilmuwan Tiongkok terdepan karena berani mendobrak hal-hal kontroversial seperti reproduksi dan juga penyuntingan gen manusia.

Nah, berikut deretan eksperimen dan modifikasi genetik revolusioner yang dilakukan ilmuwan Tiongkok yang dilansir dari Listverse via Merdeka, Senin (12/11/2018). Berikut ulasannya.

 

2 dari 6 halaman

1. Studi Genetik Terbesar

Sebuah perusahaan bernama Genome yang berbasis di Shenzhen diberi akses oleh Pemerintah Tiongkok untuk memanfaatkan database dari tujuh juta wanita Tiongkok yang sedang hamil.

Akhirnya, Genome membuat eksperimen genetika soal Down Syndrome, berdasar sampel dari database tersebut. Eksperimen ini jadi eksperimen genetika terbesar sepanjang sejarah.

Hasil dari penelitian ini berupa penemuan soal ras yang makin minoritas di Tiongkok, memiliki gen yang makin beragam.

3 dari 6 halaman

2. Anjing Berotot

Para ilmuwan asal Tiongkok mencoba memodifikasi gen dari anjing jenis beagle untuk jadi lebih kuat, lebih cepat pergerakannya, dan memiliki massa otot yang lebih banyak ketimbang anjing beagle biasa.

Menurut para ilmuwan tersebut, anjing-anjing ini akan jadi anjing pemburu yang baik dan bisa dimanfaatkan oleh kepolisian dan militer.

Para ilmuwan melakukan percobaan ini dengan membuang gen myostatin, dan hal ini berhasil terjadi di beberapa jenis anjing seperti Whippet.

Awalnya, percobaan ini dilakukan untuk meneliti berbagai penyakit anjing yang mirip dengan manusia, dan mencoba menumpasnya untuk diterapkan di manusia. Namun, percobaan ini akhirnya justru mendatangkan menfaat lain.

4 dari 6 halaman

3. Laba-Laba Sutera

Penghasil sutera ternyata tak hanya ulat. Laba-laba spesies tertentu pun bisa, karena seperti kita tahu ia mampu memproduksi jaring.

Bahkan, jaring laba-laba untuk sutera sangat kuat sehingga bisa jadi bahan untuk memperkuat rompi anti-peluru.

Selain itu, sutera laba-laba juga berguna di bidang kesehatan karena bisa menyembuhkan rusaknya saraf.

Masalahnya, laba-laba tidak bisa diternakkan dan sering bertarung sesamanya ketika teritorinya diganggu. Terlebih lagi, laba-laba juga mempraktikkan kanibalisme sehingga tak bisa diternakkan.

Akhirnya, ilmuwan Tiongkok mengganti kode genetik ulat sutera dengan laba-laba agar hasil suteranya lebih baik.

Hal tersebut berhasil dengan baik, dan akhirnya menghasilkan sutera dengan kualitas lebih baik dengan 35,2 persen merupakan jaring laba-laba.

5 dari 6 halaman

4. Monyet Kloning

Di akhir 2017 lalu, dua ekor kera macaques lahir di laboratorium Shanghai. Dua kera ini lahir dengan jeda dua minggu, namun keduanya merupakan kembar identik.

Zhing Zhong dan Hua Hua, nama kedua monyet ini, dikloning menggunakan teknik SCNT atau Somatic Cell Nuclear Transfer. Ini adalah teknik yang sama yang digunakan untuk mengkloning domba Dolly beberapa dekade lalu.

Meskipun dinyatakan berhasil, hal ini mendapat kritikan keras karena menyenggol etika kemanusiaan mengingat kloningan primata sudah sangat dekat dengan manusia.

Meski demikian, tujuan kloning ini adalah untuk mencari cara mendeteksi dan mencegah penyakit berbasis gen seperti kanker.

6 dari 6 halaman

5. Embrio Anti HIV

Sementara banyak sekali negara yang tidak mengizinkan praktik penyuntingan genetika oleh para ilmuwan, Tiongkok adalah yang dari awal menjalankannya.

Bahkan, Tiongkok bereksperimen untuk mengembangkan embrio yang anti HIV. Seperti yang kita tahu, salah satu media tular HIV adalah ibu ke janin.

Beroperasi dengan standar yang super tinggi, para ilmuwan Tiongkok melakukan eksperimen ini dengan memanfaatkan 26 sel telur yang telah dibuahi. Sel telur ini lalu dimutasi genetik dengan CRISPR.

Hasilnya, terdapat 4 sel telur yang berhasil kebal HIV. Meski demikian, masih terlalu banyak yang gagal dan masih berisiko untuk diaplikasikan ke manusia.

Reporter: Indra Cahya

Sumber: Merdeka.com

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: