Sukses

Bisakah Chatbot Menggantikan Pekerjaan Manusia?

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Layanan teman virtual atau chatbot mulai banyak diadopsi di Indonesia, khususnya di divisi pelayanan pelanggan (customer service). Situs e-Commerce Salestock misalnya, menggunakan chatbot untuk melayani konsumennya.

Selain itu ada kata.ai, yang juga menggunakan chatbot untuk menghubungkan brand dan konsumen melalui messanging platform terpopuler. Ada pula Bang Joni, chatbot yang berfungsi sebagai teman virtual sekaligus tempat pemesanan.

Semua layanan di atas sepenuhnya bekerja tanpa manusia. Lalu apakah chatbot nantinya bakal menggantikan peran manusia di industri customer service?

CEO Kata.ai, Irzan Raditya, menilai tidak menutup kemungkinan chatbot kelak menggantikan peran customer service karena ini merupakan solusi alternatif. Ia menyontohkan bahwa di Jepang ada perusahaan yang menggunakan chatbot dan mereka bisa menekan pengeluaran hingga 90 persen.

Diskusi panel mengenai chatbot di IESE 2017. Liputan6.com/Dewi Widya Ningrum

"Selama itu positif buat perusahaan pasti bakal melihat ke arah sana," katanya di salah satu sesi workshop pada acara Indonesia E-Commerce and Summit Exhibition (IESE) 2017 di BSD, Tangerang Selatan, belum lama ini.

Pada kesempatan yang sama, CEO Bang Joni, Diatche Harapan, berpendapat bahwa chatbot mungkin memang akan mengurangi jumlah karyawan, tetapi bukan berarti produktivitas jadi turun.

Dulu petani masih bekerja secara manual, lalu setelah ada teknologi dan alat bantu jumlah petani memang jadi berkurang, tapi produktivitas bisa lebih meningkat.

Co-founder & COO Salestock, Stanislaus Mahesworo menambahkan, sekarang sudah banyak perusahaan manufacturing yang menggunakan robot untuk menggantikan pekerjaan manusia. Pekerjaan copywriting juga sudah ada yang menggunakan bot. "Jadi sudah ke arah sana," imbuhnya.

Bagi industri customer service, manfaat terbesar yang didapatkan dari menggunakan chatbot adalah mereka tidak perlu menyewa, mengelola atau pun menambah tenaga kerja lagi seiring berkembangnya perusahaan. Aspek penghematan biaya menjadi bahan pertimbangannya.

Chatbot dianggap sebagai solusi alternatif yang efektif, sehingga perusahaan dapat mengalokasikan karyawannya untuk melakukan skala prioritas lain. Dengan chatbot, perusahaan juga dapat memperluas operasi pelayanan pelanggan secara global dengan biaya rendah.

Meski industri chatbot masih sangat baru di Indonesia, ke depannya chatbot diyakini akan menjadi sebuah tren yang memiliki pengaruh luas dalam kehidupan masyarakat.

(Dew/Isk)

Soulvibe 'Adu Gombal' di KLY Lounge

Tutup Video