Sukses

`Kok Bisa?` Channel YouTube dengan Video Edukatif yang Menghibur

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar dari Anda mungkin sudah pernah melihat (atau menonton) video penjelasan mengapa nilai tukar Rupiah melemah, di jejaring sosial baru-baru ini.

Ya, video tersebut menjadi viral dan tersebar di berbagai linimasa karena menampilkan penjelasan rupiah melemah yang begitu simpel, namun juga dikemas dengan tampilan animasi, serta narasi yang begitu lucu dan interaktif.

Video edukatif tersebut merupakan satu dari beberapa karya video sebuah channel edukatif yang baru saja bergabung di YouTube -- `Kok Bisa?`. Memang, channel ini terbilang masih anyar di jejaring sosial video tersebut, namun, menilik video lainnya yang memiliki konsep serupa, Kok Bisa? merupakan pemain baru di jejaring video yang mengusung tema segar berupa video edukatif pertama di Indonesia, dengan gaya humor yang menghibur.

Kok Bisa? Pada awalnya dibentuk oleh ketiga mahasiswa semester akhir jurusan komunikasi yang berinisiatif untuk membentuk sebuah channel edukasi dengan menyasar target remaja di YouTube. Gerald Sebastian, salah satu Co-Founder Kok Bisa? mengatakan bahwa konsep video yang mereka usung berupa motion grafis, di mana menampilkan deretan animasi menarik sehingga tidak membuat bosan penontonnya.

Laman Channel YouTube Kok Bisa?

“Awalnya kami bertiga bertemu dan ingin bikin channel video edukasi. Karena, di Indonesia belum pernah ada kan. Tapi, kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya tercetuslah konsep motiongrafis. Pada dasarnya kami prihatin melihat banyak sekali acara entertainment yang ada di Tanah Air yang terkesan terlalu berlebihan, sedangkan konten edukatif sangat sedikit,” tutur Gerald, ditemui Tim Tekno Liputan6.com pada acara Pop Talk di Conclave, Jakarta, Sabtu (19/9/2015).

Gerald melanjutkan, karena terlalu banyak acara entertainment yang terkesan `lebay` di Indonesia, di situlah momen yang tepat bagi Kok Bisa? hadir untuk mengajak audiens (khususnya kalangan remaja) melihat hal-hal yang terjadi sehari-hari divisualisasikan ke dalam sebuah video animasi yang menarik, namun sarat dengan konten edukatif.

Ia menjelaskan, Kok Bisa? memiliki dua kunci dari visinya, yakni curiosity dan simplicity, yang mana mampu menjawab rasa penasaran orang-orang dengan penjelasan sederhana.

“Setiap orang pasti dipenuhi rasa penasaran akan suatu hal. Hal itu bahkan bisa terjadi di kehidupan sehari-hari, seperti mengapa bisa terjadi hujan, mengapa ada banyak bahasa, mengapa orang kalau marah banting barang, banyak deh. Nah, dengan memanfaatkan momen `the power of curiosity` ini, kami `menjawab` rasa penasaran mereka dengan menghadirkan video-video edukatif. Bisa dibilang, inilah proses engaging kami terhadap audiens,” tambahnya.

Co-founder Kok Bisa? Gerald Sebastian dan Alvin Dwisaputra (Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza)

Dijelaskan Gerald, cara `menjawab` rasa penasaran audiens pun harus sederhana. “Kalau ada yang bertanya sulit, jangan dijawab sulit juga. Jawab sesimpel mungkin. Oleh karena itu, video-video edukatif kami benar-benar dikemas sangat ringan, meskipun konten pembahasannya ada yang berat,” lanjutnya.

Gerald pun mengungkap proses pembuatan video hingga kini channel Kok Bisa? mampu menggandeng puluhan ribu subscribers. Seperti apa prosesnya?

2 dari 3 halaman

Proses Pengerjaan Video

Gerald bersama kedua temannya yang juga merupakan Co-founder Kok Bisa? – Ketut Yoga Yudistira dan Alvin Dwisaputra selalu menampung deretan pertanyaan yang hendak mereka jawab di video Kok Bisa?.

“Kami bertiga mendapatkan beberapa pertanyaan di inbox, nah dari situ kami sortir isu apa yang pas untuk dibahas. Lalu kita rembukan bareng-bareng, baru deh dituangkan ke naskah,” kata Gerald.

Gerald Sebastian, Co-Founder Kok Bisa? (Liputan6.com/Jeko Iqbal Reza)

Setelahnya, sambung Gerald, naskah tersebut akan memasuki proses riset. Karena video Kok Bisa? memang menitikberatkan ke edukasi, maka harus dilatar belakangi riset tentang isu terkait. “Kita juga melakukan riset, dan nggak sembarangan. Kita selalu mementingkan kualitas dari semua video yang dirilis,” lanjutnya.

Untuk proses riset, Alvin kebagian tugas untuk melakukan riset semua isu yang dikonsepkan. Setelah proses riset, barulah memasuki tahap produksi video. Dari situ, Gerald akan bertindak sebagai ilustrasi untuk animasi video, sedangkan Yoga kebagian menjadi narator. Setelah semua selesai, barulah video di-publish di channel YouTube Kok Bisa?.

Video dirilis pada Rabu setiap minggunya, hingga saat ini Kok Bisa? sudah memiliki 18 video. Secara keseluruhan, proses pembuatan hingga perampungan satu video memakan waktu satu minggu.

Kok Bisa? pada awalnya hanya memiliki 15 subscribers saja. Namun, mereka membeberkan yang membuat channel-nya mampu meroket dengan 40.000 subscribers-nya sampai saat ini karena video penjelasan Rupiah yang melemah.

“Turning point-nya di situ. Video penjelasan Rupiah melemah jadi viral dan banyak yang nonton. Bahkan proses riset isu ini makan waktu 1 minggu, biasanya 1-2 hari saja,” kata Gerald.

Kok Bisa? memang memiliki subscriber yang cukup banyak hingga saat ini. Namun, ketika ditanyakan apakah ingin ekspansi ke luar YouTube, Gerald menjawab Kok Bisa? akan ekspansi ke arah sana, perlahan namun pasti. “Untuk saat ini, kita memang fokus di YouTube dulu. Segmentasi kita memang di sana. Terlebih, sasaran kita kan remaja yang mayoritas memakai smartphone dan akses ke YouTube sangat gampang,” jawabnya.

3 dari 3 halaman

Kolaborasi dan Harapan

Gerald berharap Kok Bisa? ke depannya dapat menjadi sebuah wadah yang bisa memajukan edukasi di Indonesia. Namun, tak menutup kemungkinan dia dan rekannya berkolaborasi dengan kreator konten lain.

“Visi kita memang ingin memajukan edukasi di sini (Indonesia), tapi kita juga ingin kolaborasi dengan pihak lain. Sampai saat ini, sudah ada beberapa pihak yang telah berkolaborasi dengan kita, namun kita belum bisa kasih tahu siapa,” ungkap Gerald.

Namun, selain kolaborasi, Kok Bisa? juga ingin bercita-cita membangun sebuah studio animasi. Mereka pun ingin menjadi penyedia bagi semua yang ingin memberikan konten edukasi lewat sebuah video menarik.

“Kami ingin membantu orang-orang, bahkan pemerintah yang ingin sosialisasi ke masyarakat, dengan meningkatkan kontennya seperti menghadirkan ilustrasi dan animasi yang menarik,” tutur Alvin.

Terkait hambatan untuk sekarang, Gerald menjelaskan bahwa pihak Kok Bisa? memang akan melakukan proses rekrutmen tim dan ekspansi lebih meluas. Oleh karena itu, proses penyaringan SDM (sumber daya manusia) disini memang menjadi salah satu masalahnya. Demikian, dia juga berpendapat ajang Pop Talk yang dihadirinya bisa menjadi `jembatan` bagi orang-orang yang ingin bergabung.

“Kami ingin meningkatkan kapasitas masing-masing, dan terus ingin berkembang. Semoga Kok Bisa? mampu menginspirasi generasi muda di Indonesia dan mampu memajukan edukasi Tanah Air lebih baik lagi,” tutup Gerald.



(jek/cas)

Loading