Sukses

RoboCop: Lebih Dramatis, Super Brutal...

Sebut saja Alex Murphy (Joel Kinnaman), seorang polisi muda yang tengah berusaha membongkar sindikat kriminal bersama partnernya, Jack Lewis (Michael K. Williams). Malangnya, di saat Lewis mengalami kondisi kritis akibat tertembak ketika terjadi petempuran senjata, Alex pun ikut tertimpa sial dengan sebuah jebakan bom yang ditanam sang musuh di dalam mobilnya. Kontan walaupun nyawanya berhasil selamat, tubuh Alex hancur terkena ledakan.

Di luar cerita Alex yang menyedihkan, perusahaan OmniCorp juga sedang di ambang kehancuran akibat undang-undang Amerika Serikat yang melarang operasi robot di negaranya. Alasannya, selain tidak memiliki sifat seperti manusia, sikap robofobia yang diidap oleh sebagian besar warganya pun membuat OmniCorp ditolak mentah-mentah saat mengajukan proposalnya.

Akhirnya, bekerjasama dengan Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) yang terkenal dengan kemampuannya mengganti organ tubuh yang hilang melalui sebuah robot, Omnicorp bersiap menciptakan sosok manusia yang hidup di dalam robot. Dan sial/beruntungnya, Alex Murphy resmi diserahkan sang istri, Clara (Abbie Cornish) dalam keadaan koma untuk ikut program tersebut.



Berbeda dengan cerita-cerita manusia super kebanyakan, film Robocop berhasil membuat sebagian besar penontonnya iba terhadap nasib Alex alias Robocop. Tak hanya beberapa kali disuguhi drama yang cukup intens lewat pertemuannya dengan istri dan anak, kondisi otaknya yang bolak-balik diset ulang juga sedikit memberikan rasa miris.

Tak heran, menurut sang sutradara Jose Padhilla, reboot ini sama sekali bukan tentang superhero.

"Ini bukan film superhero. Mungkin setiap orang ingin menjadi Spider-Man atau Iron Man, tapi tidak dengan RoboCop." tegas Jose. "Sungguh, menjadi sosok ini adalah hal yang sangat menyakitkan. Kau bahkan tak bisa menyentuh istri dan anak-anak yang mencintaimu." lanjutnya lagi.

Dipercaya Jose, rasa kasihan yang dirasakan penonton bakal menjadi ikatan tersendiri bagi film yang diangkat dalam tema futuristik ini. Alhasil, atas dasar itu, pria asal Brazil tersebut lebih menguatkan sisi emosi yang dimiliki oleh RoboCop.

"Sebuah film yang didasari rasa empati antara penonton dan karakter utama akan selalu menjadi hal yang menyenangkan dari sisi tontonan. Dan mungkin, meskipun bukan tergolong film superhero, banyak orang yang akan mengagumi tokoh ini." pungkas Jose.



Beruntung, meski memiliki kadar drama yang cukup tinggi untuk ukuran film blockbuster, RoboCop tetap membuat anda menelan ludah ketika sang robot sudah mulai mempertahankan diri melawan kejahatan.

Ya! Selain menampilkan tembak-tembakan ala game Counter Strike di sepanjang adegan, film ini juga berani tampil hancur-hancuran bak Terminator di klimaks cerita.

Alhasil, di luar rasa hormat yang tinggi terhadap film originalnya yang pernah dibuat pada tahun 1987, film ini tergolong berhasil dalam memuaskan para pecinta film laga yang mungkin sudah mulai bosan dengan aksi Iron Man dan sejenisnya.



Apalagi, selain terbantu oleh akting Michael Keaton dan Gary Oldman, film ini juga dihiasi oleh Samuel L. Jackson yang bisa membuat anda tertawa renyah di setiap kemunculannya.(Feb)