Sinopsis Film Avatar: Fire and Ash, Drama Keluarga Jake Sully hingga Perang Kolosal Lawan Manusia

Berniat nonton film Avatar: Fire and Ash yang rilis hari ini? Simak dulu sinopsis dan review singkatnya, sebelum menyaksikan film berdurasi 3 jam lebih ini!

Diterbitkan 17 Desember 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun berkah untuk Spider ini sekaligus membawa kutukan tersembunyi. Kemampuannya bisa menjadi jawaban untuk manusia bisa menginvasi Pandora secara besar-besaran. Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) yang mengetahui kemampuan baru Spider, makin punya alasan untuk mengejar Jake Sully dan keluarganya.

Peperangan besar-besaran, tak terelakkan di Pandora.

Review Singkat Avatar: Fire and Ash

Berniat menyaksikan Avatar: Fire and Ash? Pastikan dulu Anda sudah siap dengan camilan dan mengosongkan kandung kemih, karena durasi filmnya mencapai 3 seperempat jam!

Masih banyak percabangan kisah yang diceritakan dalam film ini, selain yang dimuat dalam sinopsis di atas. Mulai dari perburuan massal tulkun, pergulatan Kiri dengan kemampuannya, tarik ulur hubungan Spider dengan sang ayah biologis, maupun antara Lo'ak dengan Jake. 

Tentunya butuh ketahanan untuk bisa fokus dalam durasi sepanjang ini, tapi visual memesona yang disajikan sutradara James Cameron di layar membantu penonton untuk tetap anteng di kursi. Penonton diajak untuk ikut melayang di udara dan menyelam di lautan Pandora, tegang di tengah sengitnya pertempuran yang penuh ledakan, hingga pergerakan bangsa Na'vi yang begitu hidup dan detail. 

Tak cuma visual, elemen drama juga cukup kental dalam film ini. Tentang keluarga yang tengah menghadapi duka dan kehilangan, hingga rasa sakit dan tak berdaya menghadapi bengisnya penjajah. 

Dalam film ketiga ini, bangsa Na'vi untuk pertama kalinya diposisikan sebagai sosok antagonis lewat Klan Mangkwan. Namun tetap saja, bangsa manusia dan segala kesombongan dan ketamakannya jadi musuh besar dalam film ini--sebuah posisi yang menghadirkan perenungan tersendiri, mengingat relasinya dengan di kehidupan nyata. 

Hal inilah yang membuat pertempuran kolosal di pengujung film terasa begitu nendang--bahkan sedikit banyak mengingatkan pada perang besar di Avengers: End Game. Avatar menjadi salah satu dari segelintir film yang tak hanya berhasil membuat penontonnya menjagokan sosok non-manusia, tapi juga bersorak saat melihat makhluk yang satu spesies dengan mereka dihajar dan dibinasakan di dalam layar. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan