Makna Lagu Like A Stone dari Audioslave: Tentang Kematian, Harapan hingga Surga dari Sisi Personal

Yuk kita menyelami makna lagu "Like A Stone" dari Audioslave yang sangat dalam tentang kematian, harapan, bahkan hingga surga dari sudut pandang personal.

Diterbitkan 16 Juli 2025, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dirilis sebagai single kedua dari band rock Audioslave, lagu "Like A Stone" telah menjadi salah satu karya paling ikonik dalam katalog musik mereka.

Di balik melodi yang melankolis dan vokal emosional dari sang vokalis, mendiang Chris Cornell, tersimpan makna lagu mendalam yang jauh dari sekadar kisah cinta atau penantian romantis.

Dalam sebuah wawancara, Chris Cornell mengungkapkan bahwa "Like A Stone" sebenarnya berbicara tentang kematian dan pencarian kehidupan setelahnya melalui pendekatan yang tidak selalu sejalan dengan pandangan keagamaan monoteistik tradisional.

"Ini tentang seseorang yang duduk di kamar hotel, merenungkan kematian, ke mana kita akan pergi, apa artinya, dan segala kemungkinan yang ada," jelas Cornell kala itu, mengutip songfacts.com.

"Dan akhirnya ia menciptakan gambaran yang ia sukai: bahwa mungkin ketika kamu meninggal, jika kamu cukup baik selama hidupmu, kamu bisa pergi ke suatu tempat yang kamu kenal dan sukai," sambungnya.

Pandangan ini memberikan perspektif spiritual yang unik, bahwa surga bukanlah satu tempat tunggal atau dogma yang mutlak, melainkan pengalaman personal yang dipengaruhi oleh kehidupan dan kenangan kita.

Bahkan dalam konser, Cornell pernah menyatakan bahwa "surga adalah apa yang kamu ciptakan sendiri," mempertegas bahwa kehidupan setelah mati, dalam pandangannya, adalah sesuatu yang sangat pribadi.

 

Tentang Seorang Lelaki Tua dan Penantian Sunyi

Menariknya, banyak pendengar awal—termasuk rekan satu band Cornell sendiri—mengira lagu ini adalah lagu cinta. Bassist Audioslave, Tim Commerford, awalnya berpikir bahwa lagu ini tentang seorang pria yang menanti kekasih sejatinya.

>Namun setelah bertanya langsung kepada Cornell, ia terkejut mengetahui bahwa lagu tersebut justru tentang seorang pria tua yang duduk sendirian di rumahnya, setelah semua orang yang dicintainya meninggal dunia. Ia hanya menunggu saatnya tiba untuk menyusul mereka.

"Saya merasa sedih mendengar apa yang sebenarnya ia nyanyikan," kata Commerford. "Saya membayangkan seorang lelaki tua di kursi goyangnya, menunggu ajal menjemput."

Pemahaman ini mengubah cara pandangnya terhadap gaya penulisan Cornell. "Cornell berhasil mengecoh saya," tambahnya. "Saya dulu mengira lirik-liriknya sepele, tapi ternyata tidak. Ia benar-benar mendalam."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan