Trailer Film Demon Slayer Infinity Castle Bocor, Tim Anime Ingatkan Soal Pelanggaran Hukum

Tim anime Demon Slayer menegaskan bahwa merekam film di dalam bioskop adalah tindak pidana di bawah Undang-Undang Pencegahan Perekaman Film Ilegal di Jepang, menyusul kebocoran trailer film terbaru mereka, Infinity Castle.

Diperbarui 16 Mei 2025, 16:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tim produksi Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba angkat suara terkait kebocoran trailer film terbaru mereka, Infinity Castle, yang beredar secara ilegal di media sosial. Lewat akun resmi X (Twitter), pihak waralaba menyampaikan pernyataan resmi dalam bahasa Jepang pada Minggu, yang kemudian disusul dengan versi bahasa Inggris pada Selasa (13/5/2025) lalu.

Trailer tersebut sejatinya hanya ditayangkan secara eksklusif di bioskop Jepang bersamaan dengan penayangan ulang film Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba – The Movie: Mugen Train. Namun, cuplikan video tersebut mulai tersebar secara tidak sah di berbagai platform seperti X, YouTube, TikTok, dan Facebook.

Dalam unggahannya, tim Demon Slayer menegaskan bahwa “merekam film di dalam bioskop adalah tindak pidana di bawah Undang-Undang Pencegahan Perekaman Film Ilegal” di Jepang, mengutip dari Anime News Network.

Selain itu, pengunggahan tanpa izin ke platform daring juga termasuk pelanggaran hak cipta. Pelanggaran tersebut dapat dikenai hukuman penjara hingga 10 tahun, atau denda hingga 10 juta yen (sekitar 70.000 dolar AS), atau keduanya.

Unggahan versi Jepang mendapat respons besar dari publik dengan lebih dari 750 komentar, 18.000 repost, dan 63.000 likes hingga berita ini diturunkan. Komentar yang masuk berasal dari berbagai bahasa, meskipun sebagian besar ditulis dalam bahasa Jepang.

 

Dukungan dan Kritik

Sebagian besar pengguna Jepang mendukung pernyataan pihak produksi, bahkan mengaitkannya dengan kampanye layanan masyarakat No More Eiga Dorobo (yang berarti "Jangan Mencuri Film Lagi") yang telah berjalan sejak 18 tahun lalu.

Dukungan serupa juga datang dari sejumlah pengguna internasional, seperti akun @muchlaxe yang menulis, “Banyak dari kalian mencoba membenarkan tindakan kriminal dan malah menyalahkan korban. Menjijikkan. Kalian tidak berhak atas sesuatu hanya karena orang lain sudah mendapatkannya.”

Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik strategi pemasaran film Infinity Castle. Kritik paling umum adalah keterbatasan distribusi trailer resmi yang hanya tersedia lewat dua teaser sebelumnya dan cuplikan eksklusif di akhir Mugen Train.

>Seorang pengguna dengan nama akun @ihaljjag menulis, “Menyisipkan trailer berdurasi kurang dari satu menit ke film yang rilis lima tahun lalu—itu baru strategi pemasaran tingkat dewa.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan