Roy Marten, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, dan Mieke Widjaja adalah kuartet combo layar perak yang tak akan terhapus dari sejarah sinema. Seperti filmnya, divisi soundtrack Badai Pasti Berlalu menempatkan Yockie Suryoprayogo, Chrisye, Eros Djarot, dan Berlian Hutahuruk.
Badai Pasti Berlalu menang 4 Piala Citra kategori Tata Suara, Musik, Editing, dan Sinematografi. Ia jadi salah satu film terlaris pada 1977. Soundtrack-nya telah dua kali direkam ulang (tahun 1999 dan 2007). Ia jadi contoh ideal saat membahas karya yang menembus ruang dan waktu.
4. November 1828 (1978)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4721826/original/056845300_1705797081-Slamet_Rahardjo_November_1928.jpg)
Proyek keroyokan Gemini, Satria, Garuda Film dan Interstudio ini menghadirkan kisah loyalitas sekaligus pengkhianatan. November 1828 menguak upaya Kapten van der Borst melacak lokasi persembunyian Sentot Prawirodirdjo, tangan kanan Pangeran Diponegoro.
Film ini bukti kali kesekian kedigdayaan Teguh Karya di bidang penyutradaraan. November 1828 yang dibintangi El Manik, Jenny Rachman, Slamet Rahardjo, dan Rahmat Hidayat menyapu 7 Piala Citra FFI 1979. Termasuk, kategori bergengsi Sutradara dan Film Terbaik.
5. Usia 18 (1980)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4788989/original/062607100_1711771317-Usia_18.jpg)
Usia 18 pencapaian Teguh Karya berikutnya. Bayangkan, FFI 1981 menyajikan 11 kategori (pada tahun itu kategori Tata Suara Terbaik tidak dikompetisikan). Usia 18 yang dibintangi Yessy Gusman menembus 11 kategori.
Film ini menang tiga kategori: Pemeran Pendukung Pria, Penyunting Gambar, dan Tata Musik Terbaik. Usia 18 mengisahkan jalinan cinta Edo (Dyan Hasri) dan Ipah (Yessy Gusman) yang tak direstui ayah Ipah (Zainal Abidin).
6. Di Balik Kelambu (1982)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4788990/original/069364600_1711771317-WhatsApp_Image_2024-03-13_at_13.47.20.jpeg)
Apa jadinya jika dua raksasa sinema Indonesia (Teguh Karya dan Slamet Rahardjo) bekerja sama menulis skrip? Jawabannya ada Di Balik Kelambu yang memotret fenomena “rumahan” tentang Hasan menantu yang dibanding-bandingkan oleh mertua, Abah.
Percikan konflik yang intens dan terasa nyata, kekuatan akting para bintang dalam menghidupkan naskah, plus kinerja Teguh Karya sebagai penulis sekaligus sutradara menentukan hasil akhir Di Balik Kelambu. Film ini memborong 7 Piala Citra termasuk Film Terbaik.
6. Doea Tanda Mata (1984)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4788991/original/074917600_1711771317-Doe_Tanda_Mata.jpg)
Tahun 1984 menandai kali pertama kerja sama Teguh Karya dan Alex Komang. Kolaborasi keduanya melahirkan setidaknya dua karya kaliber Piala Citra. Yang pertama, Doea Tanda Mata, film berlatar dekade 1930-an, kala Indonesia masih disebut Hindia Belanda.
Doea Tanda Mata menang Piala Citra Tata Musik, Aristik, Sinematografi, dan Pemeran Utama Pria Terbaik. Liputan6.com pada Desember 2001 mengabarkan, Doea Tanda Mata diputar di Hongkong Internasional Film Festival dan berjaya di Festival Film Asia Pasifik.
7. Secangkir Kopi Pahit (1984)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4788992/original/078643300_1711771317-WhatsApp_Image_2024-03-13_at_13.47.23__1_.jpeg)
Isu sosial dan Teguh Karya tak dapat dipisahkan. Contoh autentiknya ada di Secangkir Kopi Pahit yang memfiturkan sejumlah masalah sosial dari Jakarta sebagai pusat urbanisasi, bekerja di bidang yang tak dikuasai, perzinaan, dan perantau gagal sukses.
Seperti judulnya, kehidupan Togar (Alex Komang) dalam Secangkir Kopi Pahit tak ada manis-manisnya. Nasib film ini di FFI juga pahit. Meraih 8 nominasi Piala Citra termasuk Sutradara dan Film Terbaik, Secangkir Kopi Pahit pulang tanpa satu kemenangan pun.
9. Ibunda (1985)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3330459/original/051069000_1608615645-Poster_Ibunda.jpg)
Di dunia musik, ada “Bunda” karya Melly Goeslaw yang memotret peran ibu dari sudut pandang anak yang telah dewasa. Di dunia film, Ibunda yang memvisualkan psikologis ibu sebagai orang tua tunggal dalam mengayomi anak-anak komplet dengan kemelutnya.
Tuti Indra Malaon sebagai janda priayi bernama Rakhim sukses jadi ikon. Performanya kuat juga menyentuh nurani penonton. Oleh para kritikus, Ibunda yang menang 9 Piala Citra termasuk Sutradara dan Film Terbaik dirujuk sebagai masterpiece dari seorang Teguh Karya.
10. Pacar Ketinggalan Kereta (1989)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4788993/original/083556600_1711771317-WhatsApp_Image_2024-03-13_at_13.47.24__1_.jpeg)
Diadaptasi Arswendo Atmowiloto dari novel Kawinnya Juminten, Pacar Ketinggalan Kereta dirujuk sebagai film terakhir Teguh Karya. Di tangannya, tema “receh” cemburu dan salah paham menjadi berkelas berkat kemasan drama musikal yang mendefinisikan ulang kata seni.
Teguh Karya menggandeng pemain langganannya, Tuti Indra Malaon dan Alex Komang, lalu merangkul idola generasi muda di zaman itu, Onky Alexander beserta Ayu Azhari. Meraih 11 nominasi Piala Citra, Pacar Ketinggalan Kereta menang 8 termasuk Film Terbaik. Bukan main!
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1380637/original/001329300_1477021257-Infografis_Film_Indonesia_revisi.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257805/original/092292600_1781257252-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)