Christine Hakim: Maunya Setelah Cinta Pertama Stop Main Film, Eh Dapat Piala Citra

Sejak kecil, Christine sudah menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang arsitek atau psikolog. Namun, takdir berkata lain.

Diperbarui 03 Agustus 2023, 21:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tak hanya harum di negeri sendiri, Christine Hakim juga dikagumi di mancanegara. Buktinya, pertengahan Juni silam aktris ini diundang bertemu Kaisar Jepang Hironomiya Naruhito dan Permaisuri Masako bersama tokoh dan pejabat Indonesia lainnya saat pemimpin Jepang itu berkunjung ke Indonesia.

Tak banyak yang tahu, Christine Hakim pernah mendapatkan penghargaan "The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Rosette" dari pemerintah Jepang berkat peran dan kontribusinya dalam mempererat hubungan kedua negara, khususnya di bidang pertukaran budaya dan kesenian. Bahkan, peran itu sudah terjalin sejak tahun 1976, ketika Christine menjadi delegasi Indonesia dalam Asia Pacific Film Festival di Jepang.

Pada 1982, Christine datang lagi ke Jepang guna memenuhi undangan Japan Foundation sebagai tamu pada JF South Asia Film Festival dan diundang oleh PM Shinzo Abe untuk berdiskusi tentang kebudayaan. Lantas, apa saja sepak terjang Christine sehingga dirinya menjadi legenda perfilman nasional?

Wanita bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim ini lahir di Kuala Tungkal, Jambi pada 25 Desember 1956. Uniknya, Christine adalah keturunan campuran, dengan kerabatnya berasal dari Padang, Aceh, Banten, Pekalongan, Madiun, dan Timur Tengah. Dan bisa ditebak, meskipun berasal dari keluarga Muslim, dia dinamai Christine dan Natalia karena lahir pada Hari Natal.

Sejak kecil, Christine sudah menancapkan cita-cita untuk menjadi seorang arsitek atau psikolog. Namun, takdir berkata lain. Pertemuannya dengan sutradara kondang Teguh Karya pada tahun 1973 membuat Christine tampil sebagai pemeran utama dalam film Cinta Pertama. Film perdana ini pula yang mengantarkan Christine meraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia.

Sejak saat itu Christine tak terbendung lagi. Sejumlah film menancapkan namanya sebagai aktris dengan kualitas tinggi. Antara lain Atheis (1974), Ranjang Pengantin (1974), Bandung Lautan Api (1974), Kawin Lari (1975), Badai Pasti Berlalu (1976), Si Doel Anak Modern (1976), Pengemis dan Tukang Becak (1978), Di Balik Kelambu (1982), Ponirah Terpidana (1984), Kerikil-Kerikil Tajam (1984), Tjoet Nja' Dhien (1988), Daun di Atas Bantal (1998), Pasir Berbisik (2001), Jamila Dan Sang Presiden (2009), Eat Pray Love (2010), Sang Kiai (2013) dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Tak mau perfilman nasional hanya dikenal publik Tanah Air, dia menampilkan 14 film Indonesia dalam Festival Tiga Benua Nantes pada November 1983 di mana dia berperan dalam setengah dari film-film tersebut. Dua tahun kemudian ia menjadi pengamat di Festival Film Cannes di Prancis. Tak sekadar jadi pengamat, Christine membawa film Tjoet Nja' Dhien (1988) karya Eris Djarot, di mana Christine berperan sebagai pemimpin gerilya Aceh, Cut Nyak Dhien. Film ini memenangkan penghargaan pada Festival Film Cannes 1989 sebagai Best International Film. Film ini kemudian menjadi perwakilan Indonesia pada Academy Awards ke-62 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Tak puas hanya sebagai aktris, Christine mulai melebarkan sayapnya pada tahun 1998 dengan menjadi produser film Daun di Atas Bantal dan Pasir Berbisik (2001). Setahun kemudian ia ditunjuk menjadi juri Festival Film Cannes, bersama dengan David Lynch, Sharon Stone dan Michelle Yeoh. Dan pada tahun 2005 ia menerima penghargaan khusus pada upacara pembukaan Festival Film Asia Deauville ke-7. Pengalaman menjajal Hollywood pertama Christine datang pada tahun 2010, ketika berperan sebagai Wayan, seorang penjual jamu asal Bali, bersama Julia Roberts dalam film Eat Pray Love. Dalam rentang perjalanan karier yang begitu panjang, Christine telah mendapatkan 5 Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik, menerima penghargaan seumur hidup dari Festival Film Indonesia, Indonesian Movie Actors Awards dan Festival Film Internasional Cinemanila. Christine juga seorang pembuat film dokumenter, yang antara lain melahirkan film tentang Situs Warisan Dunia UNESCO di Indonesia dan pada tahun 2011 menghasilkan film dokumenter tentang autisme yang dirilis bertepatan dengan Hari Kesadaran Autisme Sedunia. Ia kemudian mendirikan Christine Hakim Foundation, sebuah yayasan untuk mempromosikan pendidikan publik tentang autisme. Ia telah mendesak pemerintah untuk menghilangkan kesalahpahaman mengenai autisme, menyebut penolakan untuk menerima siswa autis di sekolah umum merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Christine menikah dengan Jeroen Lezer, seorang produser film, penulis dan aktor asal Belanda. Mereka tinggal di Cibubur, Jakarta Timur, bersama putri adopsinya, Shena. Lantas, bagaimana Christine melihat perjalanan kariernya di dunia perfilman nasional? Berikut petikan wawancara dengan Sheila Octarina dalam program Bincang Liputan6.

Halaman
Show All
Rinaldo, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan