Resensi Film Full Time: Ide Cerita Simpel, Hasil Akhir Wow Menegangkan Layaknya Nonton Thriller

A Plein Temps atau Full Time adalah film karya sineas Prancis Eric Gravel. Aktris Laure Calamy tampil prima dalam drama rumah tangga menegangkan ini.

Diperbarui 18 Juli 2022, 21:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Aktivitas sehari-hari jika dikembangkan menjadi naskah dengan pengadeganan intens, penokohan kuat plus dieksekusi dengan jeli, bisa menghasilkan film mendebarkan. Contoh aktualnya ada di film A Plein Temps alias Full Time.

Film Prancis karya sineas Eric Gravel ini menampilkan Laure Calamy sebagai pemeran utama. Ide ceritanya begini: Ibu dua anak mencari nafkah untuk menghidupi keluarga setelah cerai dari suaminya.

Cerita kayak begini sering terdengar, ada di sekitar kita, dan sejumlah film pernah mengusungnya. Namun, Full Time beda dan jauh lebih menegangkan dari biasanya.

Berikut review film Full Time. Sebagai informasi, film ini tidak tayang di bioskop. Anda bisa menyaksikannya secara legal lewat platform streaming KlikFilm mulai Juli 2022.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Tentang Julie

Julie (Laure Calamy) cerai dari Alex. Ia tinggal di pinggiran kota Paris bersama buah hatinya, Chloe (Sasha Lemaitre Cremaschi) dan Nolan (Nolan Arizmendi). Beberapa hari terakhir, suaminya mendadak tak bisa dihubungi. Julie menyambung hidup dengan bekerja di hotel berbintang.

Harusnya situasi ini tidak terlalu berat. Jadi berat, karena Prancis dihantam aksi mogok kerja berhari-hari. Transportasi umum seperti bus dan kereta api lumpuh. Taksi langka. Julie mesti berangkat pagi-pagi buta dan menitipkan dua anaknya pada Bu Lusigny (Genevicie Mnich).

Celakanya, Lusigny keberatan dengan dua faktor. Pertama, Nolan banyak tingkah. Kedua, putrinya tak setuju Lusigny di usia senja masih bekerja “angon bocah” apalagi Julie selalu pulang malam.

Situasi merumit akibat politik kantor. Julie diam-diam melamar kerja ke perusahaan lain demi nasib yang lebih baik. Lalu, ada karyawan “bermulut lancip” mengadu ke manajer hotel, Sylvie (Anne Suarez).

Sinematografi dan Penokohan

Suatu hari, Julie yang dipanggil interviu bertukar libur dan memberikan kartu akses karyawan ke pegawai baru, Lydia (Mathilde Weil). Tepergok manajer, anak baru ini dipecat. Sesi interviu dengan Jeanne Delacroix (Lucie Gallo) pun tak semulus yang dibayangkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dengan nada bicara meninggi, Jeanne menuntut Julie bersikap terbuka jika ingin diterima kerja. Ini masih ditambah masalah lain dari tunjangan suami yang tak kunjung cair hingga hasil interviu mengambang. Julie makin stres hingga tak pernah tidur nyenyak. Ya, ini drama rumah tangga. Dan ya, film ini cewek banget. Namun perhatikan Full Time baik-baik. Dalam 15 menit pertama, ia menegangkan. Setidaknya ada tiga faktor pemicu. Pertama, tokoh utama tampak buru-buru alias bergegas. Kedua, perkara pergi ke kantor saja melewati banyak drama. Sinematografi Victor Seguin memperlihatkan raut lelah Julie. Lalu mata kamera membidik panorama kaca jendela kereta api. Pergerakan objek di luar menajamkan kesan buru-buru.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan