Resensi Film Writing with Fire: Jurnalisme Adalah Inti Demokrasi, Nomine Oscar Dokumenter Terbaik

Writing with Fire mengisahkan transformasi koran mingguan Khabar Lahariya menjadi kanal YouTube berdampak besar di India. Berikut resensi filmnya.

Diterbitkan 03 Juli 2022, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Writing with Fire adalah film produksi India yang menoreh prestasi gemilang di ajang Oscar 2022. Karya sineas Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas ini diganjar nominasi kategori Film Dokumenter Terbaik.

Ia bersaing dengan 4 nomine lain yakni Attica, Flee, Ascension, dan Summer of Soul (...Or, When the Revolution Could Not Be Televised). Judul yang disebut terakhir membawa pulang Piala Oscar 2022.

Writing with Fire menuturkan kehidupan tiga jurnalis perempuan yakni Meera Devi, Shyamkali Devi, dan Suneeta Prajapati, yang bekerja di koran mingguan Khabar Lahariya.

Khabar Lahariya berada di simpang zaman karena akses informasi makin cepat via jalur digital. Mau tak mau, media ini berkompromi dengan membangun kanal YouTube. Berikut review film Writing with Fire.

  

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Diperkosa di Rumah Sendiri

Film dibuka dengan kisah pilu seorang istri yang tinggal di rumah. Suatu hari, beberapa pria tak dikenal memaksa masuk ke rumah dan memperkosanya. Aksi bejat ini terjadi beberapa kali pada Januari. Korban dan suami melaporkan tragedi ini ke polisi. Apes, laporan ditolak.

Suneeta mengkover penambangan ilegal di kampung halamannya yang digerakkan mafia. Tanpa standar perlindungan yang jelas, suatu hari terowongan bawah tanah di lokasi tambang roboh. Sejumlah pekerja tewas dan tak ada tindak lanjut atas musibah ini.

Sementara Shyamkali kesulitan merespons kecanggihan teknologi. Kondisi ini diperburuk dengan suami yang melakukan KDRT. Kepala keluarga yang seharusnya melindungi, malah mencuri gaji Shyamkali sebagai jurnalis. Tak terima dengan perlakuan ini, ia mengadu ke aparat.

Susahnya Jadi Wanita

Tak salah jika Academy Awards memberi nominasi Film Dokumenter Terbaik untuk Writing with Fire. Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas memberi gambaran kompleks soal susahnya jadi wanita di India. Ada banyak faktor pemicu.

Pertama, pria India ingin menikahi wanita terpelajar. Salahkah? Tidak. Namun setelah berumah tangga, pria melarang istri terpelajar bekerja. Jadi untuk apa menikahi gadis terpelajar (kalau pada akhirnya dilarang berkarier dan mengaktualisasi diri)?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kedua, simpang zaman membuat era media cetak memasuki fase senjakala. Jurnalis cetak mau tak mau harus beradaptasi dengan gadget dan sistem kerja daring seperti memotret dengan ponsel, baterai yang cepat habis, dan masih banyak lagi. Masalahnya, India memuat banyak ketimpangan. Masih banyak jurnalis yang rumahnya belum dialiri listrik. Kalau sudah begini bagaimana mau menggunakan bank daya dan mengecek kapasitas penyimpanan foto di ponsel?

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan