Sukses

Resensi Film Writing with Fire: Jurnalisme Adalah Inti Demokrasi, Nomine Oscar Dokumenter Terbaik

Liputan6.com, Jakarta Writing with Fire adalah film produksi India yang menoreh prestasi gemilang di ajang Oscar 2022. Karya sineas Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas ini diganjar nominasi kategori Film Dokumenter Terbaik.

Ia bersaing dengan 4 nomine lain yakni Attica, Flee, Ascension, dan Summer of Soul (...Or, When the Revolution Could Not Be Televised). Judul yang disebut terakhir membawa pulang Piala Oscar 2022.

Writing with Fire menuturkan kehidupan tiga jurnalis perempuan yakni Meera Devi, Shyamkali Devi, dan Suneeta Prajapati, yang bekerja di koran mingguan Khabar Lahariya.

Khabar Lahariya berada di simpang zaman karena akses informasi makin cepat via jalur digital. Mau tak mau, media ini berkompromi dengan membangun kanal YouTube. Berikut review film Writing with Fire.

  

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 7 halaman

Diperkosa di Rumah Sendiri

Film dibuka dengan kisah pilu seorang istri yang tinggal di rumah. Suatu hari, beberapa pria tak dikenal memaksa masuk ke rumah dan memperkosanya. Aksi bejat ini terjadi beberapa kali pada Januari. Korban dan suami melaporkan tragedi ini ke polisi. Apes, laporan ditolak.

Suneeta mengkover penambangan ilegal di kampung halamannya yang digerakkan mafia. Tanpa standar perlindungan yang jelas, suatu hari terowongan bawah tanah di lokasi tambang roboh. Sejumlah pekerja tewas dan tak ada tindak lanjut atas musibah ini.

Sementara Shyamkali kesulitan merespons kecanggihan teknologi. Kondisi ini diperburuk dengan suami yang melakukan KDRT. Kepala keluarga yang seharusnya melindungi, malah mencuri gaji Shyamkali sebagai jurnalis. Tak terima dengan perlakuan ini, ia mengadu ke aparat.

3 dari 7 halaman

Susahnya Jadi Wanita

Tak salah jika Academy Awards memberi nominasi Film Dokumenter Terbaik untuk Writing with Fire. Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas memberi gambaran kompleks soal susahnya jadi wanita di India. Ada banyak faktor pemicu.

Pertama, pria India ingin menikahi wanita terpelajar. Salahkah? Tidak. Namun setelah berumah tangga, pria melarang istri terpelajar bekerja. Jadi untuk apa menikahi gadis terpelajar (kalau pada akhirnya dilarang berkarier dan mengaktualisasi diri)?

Kedua, simpang zaman membuat era media cetak memasuki fase senjakala. Jurnalis cetak mau tak mau harus beradaptasi dengan gadget dan sistem kerja daring seperti memotret dengan ponsel, baterai yang cepat habis, dan masih banyak lagi.

Masalahnya, India memuat banyak ketimpangan. Masih banyak jurnalis yang rumahnya belum dialiri listrik. Kalau sudah begini bagaimana mau menggunakan bank daya dan mengecek kapasitas penyimpanan foto di ponsel?

4 dari 7 halaman

Rasa Aman, Barang Langka

Ketiga, struktur masyarakat yang masih menganggap perempuan sebagai (maaf) makhluk kelas dua. Wanita karier pulang malam digunjing tetangga itu nyata. Belum lagi jika ia menyewa rumah dan pihak penyewa berasal dari kasta yang lebih tinggi.

Wanita karier tak kunjung menikah itu bukan hanya “persoalan” para tetangga di Indonesia. Di India, orangtua si wanita karier bakal dituding bergantung pada anak. Walhasil, tidak menikah bukanlah pilihan.

Keempat, rasa aman untuk perempuan adalah barang langka. Tak heran jika jelang pemilu, para kandidat yang menunggangi kendaraan parpol dicecar pertanyaan seputar maraknya kasus perkosaan yang menguap di meja polisi hingga hakim.

5 dari 7 halaman

Peran Jurnalis

Dituturkan secara lugas seraya memotret kompleksnya persoalan sosial-hukum-politik di India, menjadikan Writing with Fire dokumenter yang lantang dalam menyatakan sikap dengan “meminjam” kehidupan para tokohnya.

Menjadi wanita di India, apalagi jika berasal dari kasta rendah, seolah sebuah dosa. Label kasta menempel di pundak dari lahir sampai mati. Perempuan dari kasta bawah harus siap mental diusir tetangga, diejek teman sekelas, hingga tak dapat fasilitas layak dari negara.

Di sinilah peran para jurnalis menjadi penting untuk menyuarakan ketidakadilan, mewakili korban dari sebuah sistem sosial yang tak sempurna, hingga menjelma cermin bagi masyarakat.

6 dari 7 halaman

Jualan Agama Buat Politik

Ibarat kue, Writing with Fire terasa legit sejak awal hingga gigitan terakhir. Para tokoh utama dimanusiakan, tampil natural, hingga terasa dekat dengan penonton. Yang tak berprofesi wartawan pun, bisa dengan mudah merasakan romantika jadi pekerja media.

Film ini pada akhirnya tak hanya menjadi corong bagi jurnalis. Ia mewakili suara hati istri, ibu, dan anak gadis di tengah pusara ketidakadilan hingga agama yang dijadikan aset dagang jelang Pemilu.

Rupanya, jualan agama untuk kepentingan politik tak hanya terjadi di republik anu. Dan jika tidak berpikir kritis, perempuan bisa menjadi korban di dalamnya. Di sinilah pentingnya pendidikan dan menjadi terpelajar.

7 dari 7 halaman

Negara Paling Mematikan

Pesan paling menohok ada di babak ketiga. Seorang perempuan membahas gelar Ibu bagi negeri India. Kok bisa, di negeri Ibu, kaum hawa justru tidak aman dan perkosaan seolah dilazimkan?

Fakta lain, sejak 2014, lebih dari 40 jurnalis terbunuh di India. Data ini menjadikan India salah satu negara paling mematikan bagi para jurnalis. Tak heran film ini mempertanyakan keamanan bagi jurnalis perempuan.

Durasi 92 menit tak terasa lama lantaran fakta, data, dan pesan yang disampaikan Writing with Fire penting sekaligus relevan bagi siapa saja. Anda bisa menyaksikannya secara legal lewat platform streaming KlikFilm.

 

 

Pemain: Meera Devi, Shyamkali Devi, Suneeta Prajapati

Sutradara: Sushmit Ghosh, Rintu Thomas

Produser: Sushmit Ghosh, Rintu Thomas

Durasi: 1 jam, 34 menit

Produksi: Black Ticket Films