Resensi Film Writing with Fire: Jurnalisme Adalah Inti Demokrasi, Nomine Oscar Dokumenter Terbaik

Writing with Fire mengisahkan transformasi koran mingguan Khabar Lahariya menjadi kanal YouTube berdampak besar di India. Berikut resensi filmnya.

Diterbitkan 03 Juli 2022, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kedua, simpang zaman membuat era media cetak memasuki fase senjakala. Jurnalis cetak mau tak mau harus beradaptasi dengan gadget dan sistem kerja daring seperti memotret dengan ponsel, baterai yang cepat habis, dan masih banyak lagi.

Masalahnya, India memuat banyak ketimpangan. Masih banyak jurnalis yang rumahnya belum dialiri listrik. Kalau sudah begini bagaimana mau menggunakan bank daya dan mengecek kapasitas penyimpanan foto di ponsel?

Rasa Aman, Barang Langka

Ketiga, struktur masyarakat yang masih menganggap perempuan sebagai (maaf) makhluk kelas dua. Wanita karier pulang malam digunjing tetangga itu nyata. Belum lagi jika ia menyewa rumah dan pihak penyewa berasal dari kasta yang lebih tinggi.

Wanita karier tak kunjung menikah itu bukan hanya “persoalan” para tetangga di Indonesia. Di India, orangtua si wanita karier bakal dituding bergantung pada anak. Walhasil, tidak menikah bukanlah pilihan.

Keempat, rasa aman untuk perempuan adalah barang langka. Tak heran jika jelang pemilu, para kandidat yang menunggangi kendaraan parpol dicecar pertanyaan seputar maraknya kasus perkosaan yang menguap di meja polisi hingga hakim.

Peran Jurnalis

Dituturkan secara lugas seraya memotret kompleksnya persoalan sosial-hukum-politik di India, menjadikan Writing with Fire dokumenter yang lantang dalam menyatakan sikap dengan “meminjam” kehidupan para tokohnya.

Menjadi wanita di India, apalagi jika berasal dari kasta rendah, seolah sebuah dosa. Label kasta menempel di pundak dari lahir sampai mati. Perempuan dari kasta bawah harus siap mental diusir tetangga, diejek teman sekelas, hingga tak dapat fasilitas layak dari negara.

Di sinilah peran para jurnalis menjadi penting untuk menyuarakan ketidakadilan, mewakili korban dari sebuah sistem sosial yang tak sempurna, hingga menjelma cermin bagi masyarakat.

Jualan Agama Buat Politik

Ibarat kue, Writing with Fire terasa legit sejak awal hingga gigitan terakhir. Para tokoh utama dimanusiakan, tampil natural, hingga terasa dekat dengan penonton. Yang tak berprofesi wartawan pun, bisa dengan mudah merasakan romantika jadi pekerja media.

Film ini pada akhirnya tak hanya menjadi corong bagi jurnalis. Ia mewakili suara hati istri, ibu, dan anak gadis di tengah pusara ketidakadilan hingga agama yang dijadikan aset dagang jelang Pemilu.

Rupanya, jualan agama untuk kepentingan politik tak hanya terjadi di republik anu. Dan jika tidak berpikir kritis, perempuan bisa menjadi korban di dalamnya. Di sinilah pentingnya pendidikan dan menjadi terpelajar.

Negara Paling Mematikan

Pesan paling menohok ada di babak ketiga. Seorang perempuan membahas gelar Ibu bagi negeri India. Kok bisa, di negeri Ibu, kaum hawa justru tidak aman dan perkosaan seolah dilazimkan?

Fakta lain, sejak 2014, lebih dari 40 jurnalis terbunuh di India. Data ini menjadikan India salah satu negara paling mematikan bagi para jurnalis. Tak heran film ini mempertanyakan keamanan bagi jurnalis perempuan.

Durasi 92 menit tak terasa lama lantaran fakta, data, dan pesan yang disampaikan Writing with Fire penting sekaligus relevan bagi siapa saja. Anda bisa menyaksikannya secara legal lewat platform streaming KlikFilm.

 

 

Pemain: Meera Devi, Shyamkali Devi, Suneeta Prajapati

Sutradara: Sushmit Ghosh, Rintu Thomas

Produser: Sushmit Ghosh, Rintu Thomas

Durasi: 1 jam, 34 menit

Produksi: Black Ticket Films

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan