Resensi Film Kambodja: Dua Insan Kesepian Merajut Cinta Terlarang, Manis Sekaligus Melenakan

Kambodja karya sutradara Rako Prijanto dibintangi Adipati Dolken dan Della Dartyan. Menampilkan kisah cinta terlarang dengan latar Jakarta tahun 1950-an.

Diperbarui 14 Mei 2022, 15:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kambodja menarik bukan hanya dari sisi artistik, riasan wajah dan rambut, serta tata busana.

3 Elemen yang Unggul

Ketiga elemen ini memang penting untuk menciptakan Indonesia di dedake 1950-an. Dengan gambar yang jarang lanskap, Kambodja berhasil membawa penonton ke masa lalu.

Yang ciamik bukan hanya ketiga unsur tadi, keputusan Rako Prijanto soal tone warna membuat Kambodja terasa kian jadul sekaligus klasik. Semburat cokelat keemasan yang sesekali tampak pucat membuat dunia Danti dan Bayu lebih mengasyikkan.

Yang paling memikat dari film ini, sejatinya Della Dartyan. Wajahnya sangat Indonesia saat tampil kekinian. Dalam Kambodja, ia terasa pas. Aksen dan gaya bicaranya terasa baku, mengingatkan kita pada era Tiga Dara.

Pesona Della Dartyan

Gesturnya melenakan, dari cara berjalan, menjaga mata dengan agak menunduk kepada lawan bicara, hingga gayanya menutup pintu mobil. Ada jarak-jarak kecil yang dibuat saat bicara dengan orang lain.

Jarak yang sama dengan rasa berbeda dibuat saat ia berinteraksi dengan Sena. Ini menandakan ada yang tak beres dengan rumah tangganya. Emosi dan pesan ini disampaikan Della Dartyan dengan tepat sasaran.

Revaldo dengan porsi lebih terbatas juga tampil memikat. Gaya rambut dan busananya terasa meyakinkan sebagai orang tempo dulu. Saat lepas kontrol, kendali tetap dipegangnya. Ia tetap berada di zona sebelum Generasi Bunga.

Aroma Perselingkuhan

Aroma perselingkuhan berembus dengan sangat anggun, lewat sejumlah momen yang membuat pikiran penonton menyimpulkan dengan cermat. Dari genggam tangan, hindangan yang tersaji di meja, hingga secarik kertas.

Elemen lain yang patut diapresiasi adalah tata musik. Tidak terlalu tebal namun berkumandang di saat yang tepat. Jadilah Kambodja sebagai suguhan yang berkarakter dengan tempo mendayu namun tidak sampai bertele-tele.

Ceritanya sebenarnya sederhana. Terasa kompleks berkat latar belakang 1955-1965 lengkap dengan pergerakan politik, arah angin sebuah orde, “angkatan kelima,” rakyat versus rakyat, dan konsekuensi memihak pada kubu tertentu.

Dunia Sempit

Dunia Danti dan Bayu dalam film ini sempit. Maka kita tidak melihat pergerakan politik berskala besar yang memengaruhi keputusan para tokoh, termasuk aktivitas politik Sena dan sepak terjang Lastri, yang sejak awal kami yakini bukan sembarang biduan. Mestinya bisa lebih digali.

Fokusnya hanya pada Danti, Bayu, dan ke mana kisah cinta mereka berujung. Secara keseluruhan Kambodja suguhan yang berbeda, syahdu. Selesai menonton film ini, hati teriris dan pikiran merenung.

 

 

Pemain: Della Dartyan, Adipati Dolken, Revaldo, Carmela van der Kruk, Yenni

Produser: Frederica

Sutradara: Rako Prijanto

Penulis: Anggoro Saronto

Produksi: Falcon Pictures, KlikFilm Productions

Durasi: 75 menit

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan