Sinopsis dan Review The Batman: Manusia Kelelawar Versi Emo, Gelap dan Penuh Amarah

The Batman tak cuma menampilkan adegan aksi, tapi juga penelusuran sang Manusia Kelelawar yang bertindak bak detektif.

Diterbitkan 02 Maret 2022, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Batman menguntit sang pelayan wanita, Selina Kyle alias Catwoman (Zoe Kravitz), yang kala tengah malam menyelinap masuk ke TKP pembunuhan sang Wali Kota Gotham.

Meski beda agenda, Batman dan Catwoman akhirnya bekerja bersama untuk menyingkap teka-teki berdarah The Riddler, sekaligus kebusukan yang melingkupi Gotham.

Luka Hati Batman

Kembali ke pembukaan tulisan ini, ada pertanyaan besar soal The Batman. Apakah judul ini masih perlu ditonton di antara sekian banyak film yang mengangkat sang Manusia Kelelawar. Jawabannya, “YA.” Dengan huruf kapital.

The Batman menawarkan perspektif baru dalam melihat karakter ikonis ini. Tak perlu ada tetek bengek pengulangan soal origin story Batman/Bruce Wayne, filmnya langsung menampilkan seperti apa efek luka hati yang selama ini disimpan si miliarder yatim-piatu.

Termasuk saat ia berkeliaran di Gotham sebagai alter-egonya. Yang muncul di sini adalah Batman yang penuh amarah, berupaya mencari pembalasan atas traumanya yang belum tuntas sejak kecil.

Karakter Ikonis yang Penuh Magnet

Tak bisa dipungkiri, ketika awal diumumkan akan memerankan Batman, Robert Pattinson, dihujani tanda tanya. Tak sedikit yang merasa efek karakter vampir romantis terlalu melekat kepadanya.

Namun ia cukup berhasil menghidupkan karakter ini. Tertutup dan pemurung bak pemuda emo yang poninya menutupi wajah sebagai Bruce Wayne, dan berapi-api dalam jubah Batman.

Tak cuma Robert Pattinson, Zoe Kravitz juga tampil bersinar sebagai Selina Kyle yang penuh daya magnet. Begitupun dengan Andy Serkis pemeran Alfred, sang butler setia yang membawa sisi manusiawi dalam dinamika sang karakter utama. Terasa betul tensi antara dua tokoh ikonis ini saat Bruce Wayne membentak Alfred, "Kamu ini bukan ayahku!"

Beraksi Bak Detektif

The Batman memang menampilkan adegan aksi yang cukup beragam. Mulai dari pertarungan jarak dekat, kejar-kejaran dengan Batmobile, pun manuver dengan beragam peralatan Batman. Namun porsinya tak sebanyak “permainan otak” Batman.

Superhero tanpa kekuatan super ini lebih sering diperlihatkan beraksi bak detektif polisi di film kriminal. Memecahkan petunjuk dan teka-teki, mencari barang bukti, sampai adegan menyusupkan mata-mata untuk mengumpulkan informasi.

Menarik, memang. Tapi mengingat durasinya yang nyaris tiga jam, di beberapa bagian filmnya terasa kendor dan berlama-lama berkutat di satu titik.

Metamorfosis Batman

Di luar ini, sutradara Matt Reeves—yang juga ikut menulis naskah—menyisipkan satu topik yang terasa sangat familier dengan kondisi di dunia nyata.

Bahwa kelakuan para pejabat Gotham yang korup dan bobrok, bukan hal yang asing di kehidupan yang sebenarnya. Bahwa orang-orang yang diberi amanah untuk melindungi dan memberantas kejahatan, justru menjadi sosok terdekat yang bergandengan tangan dengan penjahat kakap.

Di akhir film, metamorfosis karakter Batman pun terasa lengkap. Kalau sudah begini, tak ada jalan lain. Kami tunggu jilid selanjutnya dari Batman versi Pattinson.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan