Resensi Film Sobat Ambyar: Pemain Cinta Profesional Versus Pemula, Siapa yang Pulang Babak Belur?

Beberapa hari terakhir, pencinta film membahas Sobat Ambyar, sebuah tribut untuk The Godfather of Broken Heart Didi Kempot. Seperti apa?

Diterbitkan 21 Januari 2021, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Keberanian memalingkan muka dari “Sewu Kutha” dan “Stasiun Balapan” patut diacungi jempol. Mereka tahu persis lagu apa yang dibutuhkan untuk menjadi nyawa film.

Beri Obor Kepada Maling

Erick dan Mo Sidik (sebagai Pak Faris) adalah sinyal tawa. Penempatan mereka di dunia Jatmiko bukan tanpa risiko. Kebanyakan porsi, melunturkan hawa patah hati. Terlalu sedikit, membuat film jadi depresif. Di sinilah, kejelian duo Bagus-Gea sebagai penulis naskah diuji.

Kopet, dalam bahasa Jawa, artinya (maaf) kotoran manusia. Jelas ini bukan nama sebenarnya. Masyarakat Jawa, khususnya Solo, menyebut ini karapan atau nama panggilan yang populer di lingkungan yang bersangkutan.

Kehadiran Kopet bukan pemanis atau pelengkap penderitaan. Ia salah satu fondasi yang membuat Jatmiko hidup. Kopet adalah motivator sekaligus “rem injak” yang menjambak Jatmiko saat kebablasan. Darinya, kita belajar hati seumpama rumah.

Saat jatuh cinta, jangan berikan hati seluruhnya. “Kowe bar kemalingan, Jat. Terus saiki kowe menehi obor nyang maling kuwi dinggo ngobong omahmu,” Kopet mengingatkan. Sementara Pak Faris, dengan porsi singkat, hadir memberi solusi untuk menyempurnakan titik balik tokoh utama.

Bukan Sekadar Cinta-cintaan

Dari aspek teknis, kentara sekali Sobat Ambyar disiapkan dengan detail. Satu detail yang membuat hati kami menghangat ada dalam adegan Jatmiko minta maaf pada Anjani (Sisca JKT48). 

Keduanya saling peluk dan bertangis-tangisan. Lalu mata kamera melebarkan sudut pandang. Tampaklah foto almarhum ayah-ibu mereka seolah menatap Jatmiko dan Anjani yang berdamai.

Dari sini, kita melihat Sobat Ambyar bukan sekadar cinta-cintaan. Ia sejatinya film keluarga. Saat masalah membelit, acapkali solusinya sebenarnya ada di rumah. Hanya, kita yang kurang teliti mencari.

Bukan berarti film ini tanpa kelemahan mengingat tak ada film yang sempurna di muka bumi. Detail kosakata, seperti biasa menjadi problem film Indonesia berbasis daerah.

Petunjuk yang Ditabur Saras

Di awal film, Sisca JKT48 tampak meraba-raba logat Jawa yang pas dan baru ketemu di pertengahan. Pun kami agak deg-degan mendengar kata sak juto, mengingat orang Solo biasanya membilang sakyuto untuk padan kata satu juta. 

Akhirnya, Sobat Ambyar bukan kisah cinta biasa. Ia menjelma drama keluarga dengan penokohan lebih dalam. Jatmiko jelas pemula dalam permainan cinta. Padahal, Saras sejak awal sudah menabur petunjuk.

Ia kehilangan sosok ayah. Maka yang dicarinya adalah pria mapan yang mengayomi lahir dan batinya. Maka, ia ogah menjadi “suster” saat pacarnya sakit. Maka, ia jatuh cinta hanya kepada orang yang selalu ada saat ia butuh. 

Kalah Dadi Mawa...

Masih ada setumpuk prinsip "maka" lain dari Saras selama menjalin cinta. Apakah ini salah? Tentu saja tidak. Latar kehidupan Saras membuat motivasinya terasa halal saja.

Jatmiko tak menyadari petunjuk ini (lain dengan penulis yang sudah terlatih patah hati). Merujuk pada judul resensi ini, dalam permainan cinta Saras versus Jatmiko, siapa yang pulang dengan hati babak belur? Tentu kita menuding Jatmiko.

Tapi tunggu, perhatikan baik-baik, air muka Saras kali terakhir pamit pada Jatmiko. Orang Solo mengenal istilah, kalah dadi mawa (arang) menang dadi awu (abu). Jauh di lubuk hatinya, Saras tahu persis, menyakiti hati orang lain tak pernah merupakan sebuah kebahagiaan.

 

 

Pemain: Bhisma Mulia, Denira Wiraguna, Sisca JKT48, Erick Estrada, Mo Sidik, Asri Welas, Didi Kempot

Produser: Linda Gozali Arya, Charles Gozali

Sutradara: Charles Gozali, Bagus Bramanti

Penulis: Gea Rexy, Bagus Bramanti

Produksi: Magma Entertainment, Rapi Film, Paragon Pictures

Durasi: 1 jam, 41 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan