Sukses

SHOWBIZ BLAK-BLAKAN: Aku Didepak Produser Sinetron Karena Minta Pulang Syuting Lebih Awal (bagian 3)

Liputan6.com, Jakarta Sejujurnya aku enggak paham di mana asyiknya cerita Satu Cinta Dua Pilihan. Cinta segitiga berpadu dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apa yang baru? Tapi inilah wajah sinetron stripping Tanah Air.

Tak perlu cerita baru. Kadang cerita sinetron A di stasiun televisi anu bisa sama dengan sinetron B di stasiun televisi itu. Dan sama-sama ditonton. Sama-sama dapat rating bagus. Sebagai pencinta film, seleraku agak terjajah sejak main sinetron.

Aku lupa, ada bonus lain yang kudapat dari Satu Cinta Dua Pilihan, popularitas di dunia nyata dan jagat maya. Sebulan tampil di sinetron ini, populasi pengikutku menggembung bahkan, mencapai 600 ribu dalam sebulan.

Walhasil, sejumlah produsen menghubungiku dan menawarkan kerja sama endorse. Honor enggak seberapa, sih karena jumlah pengikutku belum sejuta. Tapi kalau sehari meng-endorse 3 produk saja, lumayan buat beli bensin, bayar listrik, makan sehari-hari, termasuk traktir si Sanny.

2 dari 9 halaman

Manajer Spesialis Endorse

Aha! Aku punya ide! Minta tolong Sanny buat mengatur kerja sama endorse. Dengan sedikit merengek dan merayu, dia pasti luluh. Hari Minggu, saat libur syuting, aku mengajak Sanny ngopi dan kusampaikan niat untuk menjadikannya manajer khusus endorse.

Mengingat, dalam sebulan ada 16 produsen yang menawarkan kerja sama. “Oke, oke, Mas Baruno yang mulai famous. Fine,” Sanny merespons dengan muka sedatar televisi plasma. Okenya belum terdengar ikhlas, nih.

“Ayolah, San. Siapa lagi yang ngerti sifat dan ritme kerja gue kalau bukan lo. Soal persenan, lo mau berapa juga hayuk. Asal jangan kegedean,” candaku.

“Oke. Nih, gue udah bilang oke sambil senyum. Sudah ikhlas, nih.”

3 dari 9 halaman

Pengumuman dari Pihak Stasiun TV

“Nah, gitu, dong. By the way sudah sebulan berjalan syutingnya. Gue sudah mulai tune-in sama cara kerja anak-anak di lokasi. Gue perhatikan karakter Baruno makin banyak muncul. Porsinya lebih dominan dibanding 13 episode pertama,” beri tahuku.

Sanny menyelamati dan mengingatkanku tetap jaga sikap selama syuting. Usai ngopi, aku pamit. Mau tidur cepat. Budi Prayitno barusan kirim WhatsApp, besok syuting pagi tapi sebelumnya ada pengumuman dari pihak stasiun televisi. Well, well, semoga kabar baik mengingat share menyenggol 14 persen.

Jam 8 malam aku sudah tergeletak di kasur. Keesokan harinya, dengan badan supersegar aku melaju ke lokasi syuting. Siang, Sanny akan menyusul membawa 5 produk untuk difoto denganku dan diunggah di Instagram. Mas Budi menyambut lalu membawaku ke ruang artis. Sekitar setengah jam kemudian, Adinda, Krisna Baginda, dan Nadea Fariya menyusul. 

 

4 dari 9 halaman

Pulang Syuting Jam 2 Pagi

“Guys, kalian orang pertama yang mendengar pengumuman ini. Sinetron kita sekarang jadi andalan pihak stasiun televisi. So, durasi ditambah jadi 2 jam. Karena sinetron yang tayang setelah Satu Cinta Dua Pilihan enggak perform. Share-nya di bawah 7, gue juga enggak tahu kenapa bisa begitu,” beri tahu Mas Budi, tanpa basa-basi.

“Wow, terus syutingnya gimana, Mas?” tanya Krisna, polos.

“Gue minta jangan ada yang telat-telat lagi, ya. Kita masih punya stok 7 episode tapi, kan enggak mungkin ngandalin itu terus. Kayaknya kita bakal pulang lebih malam, guys. Udah enggak bisa kayak dulu lagi,” jawabnya.

“Lebih malam itu maksudnya jam berapa ya, Mas? Sorry, nih,” Adinda bertanya.

“Bisa jam 2 mungkin,” ujar Budi.

5 dari 9 halaman

Soal Penambahan Honor...

“Wah kalau jam 2, sih jatuhnya pagi, Mas. Bukan malam lagi,” Nadea menyela lalu tertawa.

“Makanya gue minta tolong banget guys, dialognya dihafal betul biar enggak banyak retake. Kalau bisa one take okelah. Gue juga enggak minta kalian berdialog plek naskah. Yang penting, poin utama tersampaikan dengan jelas ke penonton. Terpaksa idealisme soal pengambilan gambar, ekspresi, bla bla bla kita tepikan dulu.” Lagi Budi berujar, “Pemain lain sambil jalan gue kasih tahu.”

Sampai di sini, aku masih bisa maklum dan enggak mau cari ribut meski sebenarnya dalam hati dongkol. Honor belum tentu naik dalam waktu dekat, kok kewajiban ditambah? Seharusnya, durasi 2 jam dihitung dua episode, dong?

Pak Sutradara bilang, mekanisme penambahan honor sedang digodok. Kalau sudah jadi, kenaikan diberlakukan sejak hari pertama episode ditambah. Yang bikin aku salut, Mas Budi benar-benar hands on terkait mekanisme ini.

6 dari 9 halaman

Jam Tidur Berantakan

Pas 10 hari kemudian, kami kembali dikumpulkan dan dikabari bahwa 2 jam dihitung 2 episode. Kalau pun durasi finalnya menjadi 2,5 jam, itu karena ada pengiklan masuk. Mereka minta dibikinkan built in dan kuis interaktif. Bodo amatlah. 

Yang penting honorku dihitung per episode dan proyek endorse-ku di tangan Sanny mengalir lancar. Dua minggu setelah itu, Budi Prayitno kembali mengumpulkan kami dan mengabari bahwa durasi 2,5 jam ini akan bertahan sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Mengingat, sinetron baru yang mestinya tayang setelah Satu Cinta Dua Pilihan ditolak pihak stasiun televisi. Alasannya, ceritanya kurang gereget. Kami mah santai-santai saja. Seminggu berlalu, aku baru sadar, kok suasana syuting tidak seperti dulu. Unsur kekeluargaan dan guyub menghilang.

Sangat bergegas. Terasa sekali kerjanya. “Belum lagi gue sadar, jam tidur gue berantakan. Tiap hari cuma tidur maksimal 4 jam. Ini enggak masuk akal, sih,” keluhku pada Sanny usai foto barang endorse di lokasi syuting.

7 dari 9 halaman

Bisa Mati Pelan-pelan

“Jangan keras-keras ngomelnya. Ingat etika, Cakra,” Sanny mengingatkan.

“Halah! Kayak mereka mempekerjakan gue dengan etika aja. Kalau pakai etika, gue enggak pulang jam 2 atau 3 pagi, dong,” sahutku.

“Cak, karier lo, kan baru mulai. Nyokap gue pernah bilang, yang namanya meniti karier, tuh pasti ada fase prihatinnya. Dan fase prihatin itu bisa berbulan-bulan bahkan menahun.”

“Gue bisa mati pelan-pelan kalau begini caranya, Saaaaannnnyyyyyy.”

Mendengar nada bicaraku meninggi, Sanny buru-buru menutup pintu ruang artis. Ia menenangkanku dan mengajakku bicara dengan kepala dingin.

“Sabar. Yang namanya kerja ikut orang pasti ada pahit-pahitnya. Anggap saja ini pahitnya. Yang penting pembayaran lancar, kan?” Sanny menasihatiku dengan volume melirih.

 

8 dari 9 halaman

Menghadap Sutradara dan Produser

“Itu Krisna dan Adinda diizinklan pulang jam 11 malam, Nyet. Gue sama Nadea enggak!”

“Krisna dan Adinda pemeran utama, Cak. Wajar, dong.”

“Belakangan Baruno itu lebih menonjol daripada Restu. Lo lupa? Porsi munculnya Baruno sama Restu saja sekarang jadi sama. Harusnya gue diperlakukan lebih manusiawi, dong!”

Sampai di sini, aku tak bisa menahan hati. Aku berencana menghadap ke Mas Budi, kalau perlu produser sekalian agar bisa pulang jam 11 malam. Itu kalau mereka mau karakter Baruno makin keren di layar kaca. Dengan kata lain, frekuensi pemunculan Baruno di layar dikurangi.

Kalau mau tetap pulang jam 2 atau 3, honor mesti ditambah. Mendengar ideku, Sanny diam. Lagi-lagi, ia pasang eskpresi datar sedatar layar televisi plasma. Kujelaskan padanya, keputusan untuk menghadap sutradara dan produser sudah bulat. Tak butuh pertimbangan lain dari mulut siapapun termasuk dia.

 

9 dari 9 halaman

Menyampaikan, Enggak Memperjuangkan

Seminggu setelah berdebat dengan Sanny, aku menghadap Mas Budi. Pukul 7 pagi, persis sebelum syuting dimulai.

“Ada apa, Cak? Muka lo kenceng amat padahal syuting belum mulai,” katanya.

“Mas, gue mau mengajukan permintaan buat pulang jam 11 pagi sama kayak Adinda dan Krisna. Ini buat kesehatan gue juga. Kalau gue sehat, kan performa makin bagus.”

“Gue paham, kondisinya lagi penuh tekanan. Gue akan teruskan permintaan lo ke produser tapi gue enggak janji akan dikabulkan, Cak.”

“Kok, gitu sih Mas? Kesannya, lo cuma menyampaikan tapi enggak memperjuangkan?”

“Begini Cakra. Pertama, lo pemeran pendukung. Kedua, share kita balik ke level 11 dan 12. Waktunya kurang pas, Cakra. Dan sejak kapan, sih gue enggak memperjuangkan kalian? Tolonglah. Nanti kalau sinetron yang baru di-ACC pihak stasiun televisi, kita bakal balik ke durasi 1 atau 1,5 jam lagi, kok,” pinta Mas Budi. (bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer:

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.