The Man Standing Next: Drama Politik Dengan Gambar Statis, Mencekam Sekaligus Dramatis

The Man Standing Next potret buram semenanjung Korea di pengujung dekade 1970-an.

Diterbitkan 22 Februari 2020, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dilatari situasi politik Korea Selatan yang kaku, penuh intrik, rawan rusuh, plus masyarakat yang gampang terprovokasi, sineas Woo menerjemahkannya ke dalam gambar-gambar statis. Mayoritas adegan digulirkan dengan gambar semi-closeup atau close-up sekalian.

Teknik ini memungkinkan penonton melihat lebih jelas ekspresi para tokoh dalam merespons perkembangan situasi politik sekecil apapun. Kalau pun ada gambar lebar, biasanya di Gedung Biru, yang disebut salah satu tokoh sebagai tempat paling mengerikan di Korea Selatan.

Itu pun terbatas karena gambar lanskap dibatasi dinding ruangan. Bisa dibilang, lebih dari 75 persen adegan diambil dalam format non-lanskap. Kamera pun malas bergerak. Ia hanya bergerak mengantar penonton ke adegan baru.

Misteri Pergerakan Kamera

Setelah kita sampai ke adegan selanjutnya, kamera berhenti bergerak untuk memberi kesempatan kepada para tokoh di ruangan itu berdialog dan berekspresi. Lanskap hanya diperuntukkan untuk adegan di luar ruangan seperti menyusuri jalan setapak yang diapit pepohonan, jalan raya lengang yang membelah Seoul, atau membingkai gedung-gedung bertingkat.

Dengan gambar statis pula, penonton tidak kerepotan mengikuti kamera dan fokus pada cerita yang bergulir cepat sekaligus rapat. Karena jika meleng sedikit, Anda akan kehilangan momen.  

Sepadat itu naskah The Man Standing Next. Sekaku itu gambar-gambarnya. Sisi positifnya, gambar-gambar kaku ini efektif membangun ketegangan dan kecurigaan dari pihak penonton. Mengingat, para tokoh bergerak dengan motif dan pola tertentu.

Kau Mendapat Dukungan Penuh

Salah satu contoh, tanpa bermaksud membocorkan, Presiden Park kerap berujar, “Kau mendapat dukungan penuh dariku. Lakukan sesuka hatimu.” Sekali mendengar dialog ini, kita dapat memaknainya dengan lugas. Tiga kali kita mendengar ujaran ini dari mulut Presiden kepada tiga orang berbeda, jelas, ini langkah politik yang patut diantisipasi.

Akting Lee Sung Min sebagai Presiden Park tampak sangat konsisten. Beberapa adegan memperlihatkan sang aktor menjelma menjadi pria berdarah dingin, lebih banyak diam, namun tanggap merespons apa saja yang berseliweran serta menyangkut lawan politiknya.

Di sisi lain, kita melihat performa Lee Byung-Hun yang mengimbangi wajah angker Presiden Park. Mencoba tenang dan tidak grusa-grusu dalam mengambil keputusan, Direktur Kim menjadi satu-satunya harapan di film ini.

 

Pesona Lee Byung Hun

Sampai akhirnya, penonton tersadar bahwa Kim juga manusia. Ia punya batas pengetahuan, kesabaran, dan ketenangan. Saat batas itu dilanggar sejumlah pihak, kita melihat emosinya meledak. Emosi Kim adalah puncak film ini.

Ia menjadi pertunjukan teaterikal yang dieksekusi dengan sangat memesona oleh Lee Byung Hun. Kami tak kan lupa pada tangannya yang bergetar saat meracik miras dan es batu lalu menyerahkannya pada sang Presiden dalam jamuan makan malam privat.

Pun kami tak lupa pada wajahnya yang memerah dan kalimat demi kalimat yang ditekan pada kata-kata tertentu, hingga drama terpeleset darah. Pada momen ini kita melihat perkawinan antara rasa takut dan keberanian.

Situasi film ini makin meneror berkat ilustrasi musik yang didominasi nada-nada rendah dan diulang-ulang untuk menyertai adegan genting. Bahkan, saat film berakhir pun, ilustrasi semacam ini kembali dimainkan. Efek yang ditimbulkan, yakni penonton pulang dengan hati yang tak kunjung lega.

 

Yang Lebih Menakutkan dari Setan...

The Man Standing Next adalah teror tanpa penampakan makhluk halus. Dengan kata lain, ada yang lebih menakutkan dari setan atau arwah penasaran. Yakni, manusia berikut kehendak, nafsu, dan emosi yang tak dapat dijinakkan. Mencekam adalah kata yang tepat untuk melukiskan The Man Standing Next.

Di Korea, film ini menyerap 7,2 juta penonton. Angka ini masih terus bertambah. Usai menonton kami bertanya-tanya, kapan, ya sineas Indonesia melahirkan drama politik semenakutkan ini? Sebelum bertanya kapan, kami bertanya, mungkin enggak, ya?

 

 

Pemain: Lee Byung-Hun, Lee Sung-Min, Kwak Do nyon, Lee Hee Joon, Kim So Jin, Seo Hyun Woo, Ji Hyun Joon, Park Sung Geun

Produser: Kim Jin Woo

Sutradara: Woo Min Ho

Penulis: Kim Chaong Sik, Lee Ji Min, Woo Min Ho

Produksi: Showbix

Durasi: 1 jam, 54 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan