Sukses

Hanung Bramantyo Jawab Isu Film Gatotkaca Dibuat dengan Pendekatan Marvel

Liputan6.com, Jakarta Film Satria Dewa Gatotkaca mengumumkan pemain dan sutradara di Jakarta pada awal pekan ini. Hanung Bramantyo ditetapkan sebagai sutradara dan Rizky Nazar pemeran utama. Masyarakat berharap lebih pada kinerja Hanung Bramantyo.

Beredar kabar, Satria Dewa Gatotkaca dibuat dengan pendekatan yang lebih ngepop ala film superhero komik Marvel. Mengingat, Gundala dari jagat Sinema Bumi Langit disebut dikerjakan dengan pendekatan komik DC.

Hanung Bramantyo merespons kabar tersebut. Kepada Showbiz Liputan6.com, Hanung Bramantyo menyebut film Satria Dewa Gatotkaca tak akan beraroma Marvel maupun DC.

2 dari 5 halaman

Tidak Menyamai

“Ini bukan Marvel bukan DC Comic. Marvel dan DC adalah bagian dari cara penceritaan dan teknologi yang kami pelajari. Termasuk pencapaiannya seperti apa. Yang kami lakukan saat ini tidak menyamai Marvel atau teknik penceritaannya merujuk pada gaya DC Comic,” terang sutradara Get Married dan Ayat-ayat Cinta itu.

Ayah lima anak ini menyebut, pihaknya menggali potensi kisah Mahabharata.

3 dari 5 halaman

Ending Gonjang-ganjing

“Yang kami punya apa? Wayang. Wayang itulah yang kami tarik, bedah, dan eksplorasi. Itu poinnya. Struktur penceritaannya pun berbeda,” ucapnya.

Hanung Bramantyo membocorkan, di tengah film Satria Dewa Gatotkaca akan ada gara-gara yang dilakonkan para punakawan. Ia menggunakan struktur wayang termasuk opening suluk dengan ending berupa gonjang-ganjing.

4 dari 5 halaman

Wayang Orang Versi Film

“Pakem itu kami bawa ke layar lebar. Ini wayang orang diproyeksikan ke layar lebar,” kata Hanung Bramantyo. Penerapan konsep pertunjukan wayang kulit ke layar lebar bukan tanpa alasan.

Film, kata Hanung, mengenal istilah screenplay. Screen yakni layar. Play artinya lakon pertunjukan. Bahasa Jawa punya kata khusus yang mendefinisikan screen, yakni kelir atau layar yang membentang dalam pertunjukan wayang kulit.

5 dari 5 halaman

Belajar dari Teguh Karya

Layar itu diterangi blencong atau lentera minyak. “Di tempat Pak Teguh Karya saya belajar pertunjukan wayang kulit. Lentera api digunakan agar nyalanya yang berpendar memberi efek seolah-seolah wayang kulit bergerak-gerak sendiri,” beri tahu suami Zaskia Adya Mecca.

“Itulah filosofi mula-mula sinematografi. Makanya, saya tidak merujuk pada Marvel atau DC. Melainkan berakar pada pakem wayang,” pungkas Hanung Bramantyo.

Melemahkan Fungsi Otak, Jauhi Kebiasaan Buruk Ini
Loading