Rambo Last Blood: Aki-Aki Ngamuk Gara-Gara Keponakannya Dijual Muncikari

Rambo Last Blood mampu mempertahankan ciri khas sebagai ikon hiburan Amerika Serikat

Diterbitkan 30 September 2019, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Konflik Rambo

Bujet produksi Rambo Last Blood yang terbatas tampak dari konfigurasi pemain. Hanya Sylvester Stallone yang punya nama besar. Villain dan karakter pendukung diperankan aktor-aktris yang kurang familier, setidaknya bagi pencinta film Tanah Air.

John Rambo yang sudah aki-aki alias sepuh menyepi di kawasan Arizona. Pekerjaannya tak begitu jelas. Ia hanya berkuda, menikmati hari tua dengan hidup di terowongan bawah tanah yang ia bangun. Visi terhadap terowongan pun sekadar untuk berjaga-jaga.

Dari sini kita tahu, ada yang diantisipasi John Rambo dan biasanya terjawab di menit-menit akhir. Karena sudah sepuh pula, konflik Rambo yang semula level internasional bergeser ke area pribadi. Dendam, mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan semangat menegakkan keadilan dengan cara sendiri mewarnai sepanjang durasi.

Jangan tanya ke mana perginya polisi dan mengapa mereka tak berkarya nyata di sini. Jelas sudah, problem Rambo Last Blood terletak pada naskah. 

Amukan Sang Veteran

Konflik Gabriela dan Miguel terasa cheesy sekaligus dangkal. Klise menempatkan si A sebagai yang terzalimi sementara si jahat dengan santainya tak merasa bersalah. Penonton jadi enggan berempati kepada keduanya. Di sisi lain, John Rambo dibiarkan sendirian berjuang. Terlalu berat beban yang disangganya. Padahal kalau dipikir-pikir ia outsider bagi Maria dan Gabriel. Fakta bahwa Carmen tak berbuat banyak membuat film aksi rumahan ini kian suram dan mewakili sebuah kata: kesepian.

Setelah melodrama keluarga yang tak jauh beda dari sinetron, Rambo Last Blood menutup kelemahan konflik dengan aksi memukau. Sylvester Stallone memang tak segesit dulu. Keriput di wajah dan napas yang tak lagi panjang disiasati dengan strategi perang memancing musuh untuk bertamu.

Meski lagi-lagi rombongan yang bertandang terkesan kehebohan. Tak apa, yang penting setengah jam terakhir film ini memuaskan Anda yang ingin melihat sang aktor veteran mengamuk dan membantai lebih dari selusin lawan beringas. 

Soal Politik

Film ini menyisakan pernyataan politik tipis-tipis soal politik perbatasan AS vs. Meksiko. Seperti diketahui, Desember 2018, hubungan AS-Meksiko memanas. Presiden Donald Trump mengancam menutup seluruh perbatasan Meksiko. Januari 2019, pro-kontra pembangunan tembok perbatasan menajam.

Sejumlah media mengkritisi dampak tembok dari terancamnya 346 spesies hewan hingga kemungkinan jadi bumerang politik. Trump membangun tembok dengan maksud melindungi warga AS dari Meksiko yang konon punya angka kriminalitas tinggi.

Ndilalah, sumber konflik Rambo Last Blood ada di Meksiko yang digambarkan lewat jalanan sempit sekaligus kotor plus pemukiman kumuh. Stallone kepada media bilang tak ada pernyataan politik luar negeri AS di Rambo Last Blood. Ia hanya menyajikan cerita untuk dinikmati, tak perlu diseret-seret ke ranah politik.

Kembali ke soal film, Rambo Last Blood bukan sekuel yang kami harapkan. Fase genting di setengah jam terakhir adalah hiburan yang sulit dilupakan. Stallone dan Rambo sama-sama masih punya taji. Buktikan sendiri.

 

Pemain: Sylvester Stallone, Paz Vega, Sergio Peris-Mencheta, Adriana Barraza, Yvette Monreal, Fenessa Pineda, Rick Zingale, Oscar Jaenada

Produser: Avi Lerner, Yariv Lerner, Kevin King Templeton, Les Weldon

Sutradara: Adrian Grunberg

Penulis: Matthew Cirulnick, Sylvester Stallone

Produksi: Millennium Media, Balboa Productions

Durasi: 1 jam, 29 menit

 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan