Ad Astra: Pencapaian Akting Brad Pitt dan Teknis James Gray

Film Ad Astra diproduseri sekaligus dimainkan oleh Brad Pitt.

Diterbitkan 26 September 2019, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tengok pula bagaimana peralihan air muka Brad Pitt dari kali pertama mengirim pesan suara atas nama institusi. Lalu bandingkan saat ia mengirim pesan suara (dari ruang kapal angkasa yang sama) atas nama pribadi. Matanya yang berkaca adalah cerminan degup jantung yang tidak setenang dulu. Tak sembarang aktor bisa tetap “anggun” dengan konflik batin semenumpuk ini. Brad Pitt dalam kondisi ini dikenal jago.

Gemilang

Ad Astra gemilang juga berkat sinematografi dan pewarnaan yang mewakili karakter tiap-tiap wilayah. Tentu saja kita dibuai kesunyian yang termanifestasi oleh warna hitam berikut jutaan bintang berupa titik-titik yang berkedip genit. Detail lain tercermin dari ruang-ruang di Stasiun Ersa Mars, yang merefleksikan gradasi warna merah jingga dalam berbagai tingkatan. Sebelumnya, set lokasi bulan membiaskan warna keemasan yang terus memucat jadi perak yang ternoda oleh lubang-lubang kawah.

Karakter per wilayah dibangun hingga melintasi Saturnus dan bermuara di Neptunus yang sebiru Bumi. Namun, sifat birunya berbeda dilapisi efek visual yang membuat kita mampu mencicipi betapa dinginnya planet berkabut cincin ini. Diproyeksikan berjarak 4,5 miliar kilometer dari matahari dengan suhu minus 218 derajat Celsius, planet ini tempat yang tepat untuk membahas keterbatasan manusia, keterasingan, kesepian, emosi labil yang menjurus ke depresi.

Tommy Lee Jones tampil singkat. Dengan kerut wajah yang amat jelas, kita mudah saja berempati dan memahami mengapa ia berjarak dengan anak sendiri. Alur cerita di luar angkasa selama ini tak menyediakan banyak gambar untuk dinikmati selain ruang sempit kapal angkasa, wajah planet yang tak setiap hari bisa kita lihat, dan interaksi para pelaku. Sineas James Gray mengakalinya dengan menuturkan kisah dari sudut pandang paling personal dari sosok Roy.

Perjalanan puluhan hari untuk menjauhi Matahari dan Bumi membuat kondisi kejiwaan astronaut layaknya tentara di medan perang. Perkembangan psikologis tak hanya dilukis dari proses evaluasi kejiwaan pemeran utama tapi juga kilas balik Roy dengan sejumlah karakter yang membentuknya hingga seperti sekarang. Mayoritas tersaji dengan gambar closeup dan semicloseup. Tak semua penonton cocok dengan teknik James Gray dalam bercerita. Pun tak semua audiens nyaman dengan ritme film ini. 

Sebagian penonton bisa saja merasa diuji kesabaran untuk menikmati pahitnya kesepian versi Ad Astra. Belum lagi akhir film ini tak membuat semua merasa lega. Meski demikian, harus diakui Ad Astra salah satu film dengan pernyataan sikap jelas tahun ini. Sejauh apa pun Anda menjelajah tata surta, tak ada tempat seindah “kelereng” hijau-biru bergaun awan bernama Bumi. Tak ada yang lebih menyakitkan dari jauh dari keluarga. Tak ada yang lebih melegakan dari pulang dan menatap pasangan. Puitis, dramatis, sekaligus klasik. Itulah Ad Astra. (Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Rizky Aditya SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan