Sukses

Jadi Komentator Golden Memories Asia Indosiar, Ini 5 Hit Besar Ruth Sahanaya

Liputan6.com, Jakarta - Ajang Golden Memories Asia di Indosiar selalu bertabur bintang dan peserta bertalenta. Sejumlah bintang lintas dekade dipercaya sebagai komentator. Salah satunya Ruth Sahanaya. Ruth Sahanaya kerap memberi masukan ke peserta dan bahkan berkolaborasi.

Ruth Sahanaya memang berkompeten untuk hal yang satu ini. Maklum, di era 1990-an, Ruth Sahanaya terbilang macan festival.

Pada 1992, Ruth Sahanaya beraksi di Midnight Sun Song Festival di Finlandia dan digelari Grand Prix Winner. Ia mencetak banyak hit sejak melepas album Seputih Kasih (1987).

Showbiz Liputan6.com memilih 5 hit besar Ruth Sahanaya. Kalau lagu favorit Anda tak masuk daftar ini, jangan marah, ya. 

 

2 dari 6 halaman

1. Astaga (1987)

Usai merilis album Pop Ambonia pada 1985, Ruth Sahanaya dipinang Aquarius Musikindo menjadi artis lokal pertama perusahaan rekaman itu.

Album debut Seputih Kasih melahirkan 2 hit besar, “Memori” dan “Astaga.” Sejumlah pengamat musik menyebut Seputih Kasih simbol lahirnya genre pop kreatif di tengah dominasi pop cengeng melankolis kala itu.

“Astaga” yang masuk daftar 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa adalah kritik sosial bagi kaum muda. Lirik soal maraknya sikap cuek, tak peduli, dan mau enak sendiri terasa relevan hingga kini. Dibawakan energik dengan teknik vokal matang, “Astaga” hit pertama dan terbaik sang diva.

3 dari 6 halaman

2. Tak Kuduga (1989)

Usai “Astaga,” Ruth Sahanaya gigih melawan maraknya lagu patah hati di pengujung dekade 1980-an dengan “Tak Kuduga” karya Erwin Gutawa dan Lulu.

Tentang cinta yang gayung bersambut, Ruth Sahanaya membawakan lagu ini dengan berbunga-bunga. Tak usah melihat ekspresinya saat menyanyi pun, suara Ruth telah menggambarkannya.

Aura jatuh cinta ala Ruth Sahanaya terdengar jelas saat melantun lirik: "Tak kuduga semua terjadi, tak kusangka kau sambut jemari."

Lagu ini melegitimasi persahabatan dan kerja profesional Ruth-Erwin Gutawa.

4 dari 6 halaman

3. Kaulah Segalanya (1991)

Ini hit yang mengantar Ruth Sahanaya ke puncak karier. “Kaulah Segalanya” karya Tito Soemarsono diawali intro permainan piano khas Erwin Gutawa dilanjutkan dengan intepretasi serta lengkingan vokal Ruth Sahanaya yang bold.

Saking meledak, “Kaulah Segalanya” dibuat versi bahasa Inggris, “You Always Be Mine.” Liriknya ditulis penyiar berita legendaris Tengku Malinda.

“Kaulah Segalanya” mengantar Ruth Sahanaya meraih platinum ganda karena terjual 300 ribu kopi lebih. Lagu ini mengubah wajah karier Ruth di industri musik Tanah Air.

5 dari 6 halaman

4. Keliru (1999)

Usai “Kaulah Segalanya,” Ruth Sahanaya merilis album the best, single “Usah Kau Lara Sendiri” (berduet dengan Katon Bagaskara), dan merilis album Uthe..! (1996).

Belum ada hit besar dari sejumlah proyek itu. Barulah saat merilis album Kasih yang berisi 8 lagu, Ruth Sahanaya mencetak hit besar.

“Keliru” karya Fatur dan Capung Java Jive melegitimasi status Ruth Sahanaya sebagai diva. Seperti “Kaulah Segalanya,” “Keliru” bertahan lama di ratusan tangga lagu radio Tanah Air. Album Kasih diganjar platinum ganda oleh Aquarius Musikindo.

6 dari 6 halaman

5. Andaikan Kau Datang Kembali (2004)

Tahun 2003, Ruth Sahanaya pindah ke Sony Music. Album pertama bersama Sony Music, Bicara Cinta, kurang sukses.

Justru setahun kemudian saat menjadi bintang tamu album Erwin Gutawa Salute to Koes Plus/ Bersaudara, karier Ruth meroket. Ia dipercaya mengintepretasi ulang lagu monumental “Andaikan Kau Datang Kembali.”

Dijadikan single kedua setelah “Manis dan Sayang” dari Andy /Rif, Ruth Sahanaya mengantar album ini meraih plakat platinum lantaran terjual 150 ribu kopi lebih.

Di tangan Ruth, “Andaikan Kau Datang Kembali” terasa seperti nomor anyar. Ini album Erwin Gutawa pertama dan hingga kini satu-satunya yang diganjar platinum. (Wayan Diananto)

Loading
Artikel Selanjutnya
Sheila Majid dan Ruth Sahanaya Kangen-kangenan di Golden Memories Asia Indosiar
Artikel Selanjutnya
5 Artis Ngetop yang Berulang Tahun di Bulan September