Wedding Agreement: Momen Rumahan jadi Terasa Manis dan Romantis

Film Wedding Agreement mencerminkan dua karakter dalam menyikapi perjodohan.

Diterbitkan 05 Agustus 2019, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wedding Agreement mencerminkan dua karakter dalam menyikapi perjodohan. Dikemas dalam konsep dramedi alias drama komedi yang cair sekaligus jenaka. Metode ini efektif membuat tema klise perjodohan terasa beda dan kekinian.

Sebagai sebuah karya perdana, Wedding Agreement awal yang indah bagi sineas Archie Hekagery. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, Archie Hekagery mampu mengirim pesan dengan lembut. Jauh dari kesan khotbah dan penghakiman.

Cerita Wedding Agreement berawal ketika Tari (Indah Permatasari) dan Bian (Refal Hady) menjalani akad nikah menikah secara sederhana di masjid. Tari yatim piatu. Sejak orang tuanya mangkat akibat kecelakaan, Tari diasuh Pak De (Mathias Muchus) dan Bu De (Ria Irawan).

Sementara Bian lebih beruntung. Ayah (Bucek) dan ibunya (Unique Pricilla) masih ada. Namun Bian tidak bahagia lantaran dijodohkan dengan Tari. Bian menerima perjodohan ini demi membahagiakan ibunya yang kena kanker. Cinta Bian hanya untuk Sarah (Aghniny Haque).

Tak lama setelah menikah, Bian meminta Tari menandatangani surat perjanjian di atas materai yang isinya, rumah tangga mereka hanya untuk setahun. Setelah itu, Tari akan diceraikan dan Bian kembali ke pelukan Sarah.

Aturan lain menyebutkan, meski tinggal seatap, Bian berada di lantai 2, sementara Tari di lantai bawah. Ada batas yang tak boleh dilanggar. Pisah ranjang sejak malam pertama membuat Tari terpukul. Apalagi, beberapa kali Tari memergoki Bian mengontak Sarah. Emosi Tari mencapai puncak saat Sarah bertamu. Harga diri Tari sebagai nyonya rumah tercabik.

Unsur Komedi yang Kuat

Trailer Wedding Agreement menyiratkan nuansa drama yang kental. Awalnya penonton boleh saja menduga, film ini serupa dengan Ayat-ayat Cinta atau Surga yang Tak Dirindukan. Di luar dugaan, Wedding Agreement menampilkan unsur komedi lumayan kuat.

Dan menariknya, dibangun dari kondisi yang dimainkan oleh para pemeran utama. Di Surga Yang Tak Dirindukan memang ada unsur komedi, namun lawakan dipercayakan kepada pemeran pendukung yang notabene para komika seperti Kemal Pahlevi dan Muhadkly Acho.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sejumlah adegan pemantik tawa justru bisa dimainkan Refal Hady dan Indah Permatasari dengan ekspresi natural. Mereka seolah tak sedang melucu. Kalau ternyata bikin penonton ngakak, itu bonus. Misalnya, saat Bian memberi tahu harus menghadiri ulang tahun orang tuanya nanti sore. Tari yang ujug-ujug diminta bersiap, protes kenapa Bian tidak memberi tahu. “Ini sedang ngasih tahu,” jawab Bian, enteng dan ekspresi wajah datar. Tari yang “tertindas” bisa membalik keadaan lewat sebuah momen. Adegan kocak lainnya saat rahasia pisah ranjang pasangan ini nyaris terbongkar. Ekspresi gelagapan Refal benar-benar kocak. Di sisi lain, kepanikan Indah yang berupaya menguasai keadaan bikin ngakak. Keunggulan lain film ini, keluwesan Archie dalam memoles adegan “rumahan” menjadi romantis. Momen menonton film sambil makan mi di tangan Archie terasa manis. Dialog film yang berangkat dari cerita yang ditulis Mia Chuz, tidak terasa menggurui melainkan menyentil. Ujaran soal alasan sakit saat diminta salat subuh, tapi giliran dapat panggilan via ponsel mendadak sembuh, jelas menjewer nurani.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Rizky Aditya SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan